Friday, August 8, 2014

Sekh Ahmad Al-khotib Minangkabau

Nasab
 Beliau bernama lengkap Al ‘Allamah Asy Syaikh Ahmad bin ‘Abdul Lathif [bin ‘Abdurrahman] bin ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al Khathib Al Minangkabawi [Al Minkabawi] Al Jawi Al Makki Asy Syafi’i Al Atsari rahimahullah.
Syaikh Ahmad Al Khathib dilahirkan di Koto Tuo, Desa Kota Gadang, Kec. Ampek Angkek Angkat Candung, Kab. Agam, Prov. Sumatera Barat pada hari Senin 6 Dzul Hijjah 1276 H bertepatan dengan 26 Mei 1860 M di tengah keluarga bangsawan. ‘Abdullah, kakek Syaikh Ahmad atau buyut menurut riwayat lain, adalah seorang ulama kenamaan. Oleh masyarakat Koto Gadang, ‘Abdullah ditunjuk sebagai imam dan khathib. Sejak itulah gelar Khathib Nagari melekat dibelakang namanya dan berlanjut ke keturunannya di kemudian hari.
Ada perbedaan mengenai siapa kakek Syaikh Ahmad. Menurut ‘Umar ‘Abdul Jabbar, ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Al Mu’allimi, dan Ibrahim bin ‘Abdullah Al Hazimi, kakek Syaikh Ahmad adalah ‘Abdullah. Sedangkan menurut Dadang A. Dahlan, kakek Syaikh Ahmad adalah ‘Abdurrahman yang bergelar Datuk Rangkayo Basa. Terlepas dari perbedaan itu, yang jelas Syaikh Ahmad berasal dari keluarga bangsawan, baik dari jalur ayah maupun ibu.

Perjalanan Syaikh Ahmad dalam Thalabul ‘Ilmi

Ketika masih di kampung kelahirannya, Ahmad kecil sempat mengenyam pendidikan formal, yaitu pendidikan dasar dan berlanjut ke Sekolah Raja atau Kweek School yang tamat tahun 1871 M.
Di samping belajar di pendidikan formal yang dikelola Belanda itu, Ahmad kecil juga mempelajari mabadi’ (dasar-dasar) ilmu agama dari Syaikh ‘Abdul Lathif, sang ayah. Dari sang ayah pula, Ahmad kecil menghafal Al Quran dan berhasil menghafalkan beberapa juz.
Pada tahun 1287 H, Ahmad kecil diajak oleh sang ayah, ‘Abdul Lathif, ke Tanah Suci Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Setelah rangkaian ibadah haji selesai ditunaikan, ‘Abdullah kembali ke Sumatera Barat sementara Ahmad tetap tinggal di Makkah untuk menyelesaikan hafalan Al Qurannya dan menuntut ilmu dari para ulama-ulama Makkah terutama yang mengajar di Masjid Al Haram terutama yang mengajar di Masjid Al Haram.
Di antara guru-guru Syaikh Ahmad di Makkah adalah:
  1. Sayyid ‘Umar bin Muhammad bin Mahmud Syatha Al Makki Asy Syafi’I (1259-1330 H)
  2. Sayyid ‘Utsman bin Muhammad Syatha Al Makki Asy Syafi’i (1263-1295 H)
  3. Sayyid Bakri bin Muhammad Zainul ‘Abidin Syatha Ad Dimyathi Al Makki Asy Syafi’I (1266-1310 H) –penulis I’anatuth Thalibin.

    Dalam Ensiklopedi Ulama Nusantara dan Cahaya dan Perajut Persatuan mencatat beberapa ulama lain sebagai guru Syaikh Ahmad, yaitu:
  4. Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan (wafat 1304) –mufti Madzhab Syafi’I di Makkah-
  5. Yahya Al Qalyubi
  6. Muhammad Shalih Al Kurdi
Mengenai bagaimana semangat Syaikh Ahmad dalam thalabul ‘ilmi, mari sejenak kita dengarkan  penuturan seorang ulama yang sezaman dengan beliau, yaitu Syaikh ‘Umar ‘Abdul Jabbar rahimahullah dalam Siyar wa Tarajim hal. 38-39, “…Beliau adalah santri teladan dalam semangat, kesungguhan, dan ketekunan dalam menuntut ilmu serta bermudzakarah malam dan siang dalam pelbagai disiplin ilmu. Karena semangat dan ketekunannya dalam muthala’ah dalam ilmu pasti seperti mathematic (ilmu hitung), aljabar, perbandingan, tehnik (handasah), haiat, pembagian waris, ilmu miqat, dan zij, beliau dapat menulis buku dalam disiplin ilmu-ilmu itu tanpa mempelajarinya dari guru (baca: otodidak).”
Selain mempelajari ilmu Islam, Ahmad juga gemar mempelajari ilmu-ilmu keduniaan yang mendudkung ilmu diennya seperti ilmu pasti untuk membantu menghitung waris dan juga bahasa Inggris sampai betul-betul kokoh.

Syaikh Ahmad Menikah dan Menjadi Seorang Ayah

Di antara kebiasaan Syaikh Ahmad di Makkah adalah menyeringkan diri mengunjungi toko buku milik Muhammad Shalih Al Kurdi yang terletak di dekat Masjid Al Haram untuk membeli kitab-kitab yang dibutuhkan atau sekedar membaca buku saja jika belum memiliki uang untuk membeli. Karena seringnya Syaikh Ahmad mengunjungi toko buku itu membuat pemilik toko, Shalih Al Kurdi, menaruh simpati kepadanya, terutama setelah mengetahui kerajinan, ketekunan, kepandaian dan penguasaannya terhadap ilmu agama serta keshalihannya.
Ketertarikan Shalih Al Kurdi terhadap Syaikh Ahmad dibuktikan dengan dijadikannya Syaikh Ahmad sebagai menantu. Ya. Setelah banyak mengetahui tentang prihal dan kepribadian Syaikh Ahmad yang mulia itu, Shalih Al Kurdi pun menikahkannya dengan putrid pertamanya yang kata Hamka dalam Tafsir Al Azhar bernama Khadijah. Sebenarnya Syaikh Ahmad sempat ragu menerima tawaran dari Al Kurdi karena tidak adanya biaya yang mencukupi dan telah mengatakan terus terang, akan tetapi justru tidak sedikit pun mengurangi niat besar dari Al Kurdi untuk menjaqdikannya menantu. Bahkan Al Kurdi berjanji menanggung semua biaya pernikahan termasuk mahar dan kebutuhan hidup keluarga Syaikh Ahmad. Masya Allah. Jika karena bukan kepribadian Syaikh Ahmad yang mulia dan keilmuannya, mungkin hal semacam ini tidak akan pernah terjadi.
Tentang pengambilan Syaikh Ahmad sebagai menantu Shalih Al Kurdi, Syarif ‘Aunur Rafiq bertanya terheran kepada Shalih, “Aku dengar Anda telah menikahkan putrid Anda dengan lelaki Jawi yang tidak pandai berbahasa ‘Arab kecuai setelah belajar di Makkah?” “Akan tetapi ia adalah lelaki shalih dan bertaqwa,” jawab Shalih seketika, “Padahal Rasulullah shallallahu ‘alai wa sallam bersabda, ‘Jika dating kepada kalian seseorang yang agama dan amanahnya telah kalian ridhai, maka nikahkanlah ia.’
Dari pernikahannya dengan Khadijah itu, Syaikh Ahmad dikaruniai seorang putra, yaitu ‘Abdul Karim (1300-1357 H).
Ternyata pernikahan Syaikh Ahmad dengan Khadijah tidak berlangsung lama karena Khadijah meninggal dunia.
Shalih Al Kurdi, sang mertua, untuk menikah kembali dengan purinya yang lain, yaitu adik kandung Khadijah yang bernama Fathimah. Fathimah adalah seorang seorang wanita teladan dalam keshalihan dan memiliki hafalan Al Quran yang baik. Oleh karena itu tidak heran jika anak-anaknya kelak menjadi orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi di Timur Tengah, yaitu:
  1. ‘Abdul Malik. Ketua redaksi koran Al Qiblah dan memiliki kedudukan tinggi di Al Hasyimiyyah (Yordan). Belajar kepada sang sang ayah lalu mempelajari adab dan politik.
  2. ‘Abdul Hamid Al Khathib –seorang ulama ahli adab dan penyair kenamaan yang pernah menjadi staf pengajar di Masjid Al Haram dan duta besar Saudi untuk Pakistan. Di antara karya ilmiahnya adalah Tafsir Al Khathib Al Makki 4 jilid, sebuah nazham (sya’ir) berjudulSirah Sayyid Walad Adam shallallahu ‘alaihi wa sallam, Al Imam Al ‘Adil (sejarah dan biografi untuk Raja ‘Abdul ‘Aziz Alu Su’ud)-
Kesuksesan Syaikh Ahmad dalam mendidik anak-anaknya sehingga menjadi tokoh-tokoh berhasil bukanlah omong kosong belaka. Keberhasilan itu berawal dari sistem pendidikan yang mengacu kepada nilai-nilai ajaran Islam yang mulia terutama masalah ‘aqidah. Mari sejenak kita dengar langsung penuturan ‘Abdul Hamid Al Khathib tentang bagaimana Syaikh Ahmad menanamkan ‘aqidah pada anak-anaknya, “Ketika kecilku dulu, jika aku meminta sesuatu dari ayahku, beliau akan berkata,’Mintalah kepada Allah, pasti Dia akan memberimu (apa yang kamu minta).’ Aku pun balik bertanya, ‘Memangnya Allah di mana, yah?’ ‘Dia berada di langit sana,’ jawab ayahku,’Dia dapat melihatmu, sedangkan kamu tidak melihat-Nya.’ Tidak selang berapa lama, ayahku pun mendatangiku dengan membawa apa yang kuminta seraya berkata, ‘Ni, Allah telah mengirim kepadamu apa yang tadi kamu minta .’
Dulu juga jika aku meminta sesuatu kepada Allah dan tidak aku dapatkan, maka aku pun segera mengadu kepada ayahku, ‘Sesungguhnya aku telah meminta ini dan itu kepada Allah, tapi kok Allah tidak memberiku, yah?’ Ayah pun segera menjawab, ‘Ini tidak mungkin terjadi kecuali juka kamu sendiri yang bikin Allah murka. Ya mungkin kamu sudah berlaku sembrono dalam ibadahmu, atau kamu terlambat shalat, atau mungkin kamu sudah menggunjing seseorang? Maka bertaubatlah dan minta ampunlah kepada Allah, pasti Dia akan memberikan semua permintaanmu.’ Aku pun segera menlakukan wasiat ayahku, maka semua keinginanku pun dapat terwujud.”
Lihatlah, bagaimana pendidikan aqidah yang diberikan Syaikh Ahmad kepada anaknya ini. Pendidikan mana lagi yang lebih mulia dari penanaman ‘aqidah yang kuat pada diri seorang anak. Bukankah melukis di batu itu sulit namun hasilnya akan lebih kekal? Demikian juga dengan diri seorang anak. Seorang anak kecil itu bagaikan gelas kaca yang masih kosong. Ia tergantung dengan siapa yang pertama kali mengisinya. Pendidikan yang seperti inilah yang akan menanamkan rasa cinta yang tinggi kepada Allah, bersandar hanya kepada kepada-Nya, meminta hanya kepada-Nya semata bahkan hal-hal yang kecil sekalipun. Inilah pendidikan tauhid yang pernah dipraktekkan Rasulullah kepada keponakannya, Ibnu ‘Abbas, yang ketika itu usianya masih kanak-kanak, “Jika kamu meminta pertolongan, mintalah (pertolongan) kepada Allah.”
Potret lain dari pendidikan yang diberikan Syaikh Ahmad kepada keluarganya adalah beliau selalu menegur dan memperingati bagi siapa saja yang menyia-nyiakan waktunya dengan bermain-main dan berbagai hal yang dapat melalaikan termasuk alat-alat music dan nyanyian. Semua ini dilakukan Syaikh Ahmad karena bentuk rasa sayangnya terhadap keluarganya. Karena melarang tidak selamanya bermakna benci. Tidak seperti anggapan sementara sebagian orang dalam mengekspresikan rasa cintanya kepada keluarganya. Mereka kira dengan membiarkan semua gerak-gerik dan tingkah laku keluarganya itulah yang disebut cinta. Padahal boleh jadi prilaku-prilaku itu mengundang murka Allah ‘Azza wa Jalla.  Akan tetapi berbeda dengan Syaikh Ahmad, ia menyadari bahwa seorang ayah kelak akan dimintai pertanggungjawaban di depan pengadilan Rabbul ‘alamin. Maka dengan segenap kemampuannya, Syaikh Ahmad menganjurkan kepada semua keluarganya untuk menjauhi semua hal-hal yang tidak bermanfaat dan mencukupkan diri dengan sesuatu yang bermanfaat saja. Tidakkah Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri dan keluarga kalian dari neraka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas tanggungannya.” Sampai sabda beliau, “Dan laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya, maka ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadapnya.”

Karir Syaikh Ahmad di Makkah

Kealiman Syaikh Ahmad dibuktikan dengan dilangkatnya beliau menjadi imam dan khathib sekaligus staf pengajar di Masjid Al Haram. Jabatan sebagai imam dan khathib bukanlah jabatan yang mudah diperoleh. Jabatan ini hanya diperuntukkan orang-orang yang memiliki keilmuan yang tinggi.
Mengenai sebab pengangkatan Syaikh Ahmad Al Khathib menjadi imam dan khathib, ada dua riwayat yang nampaknya saling bertentangan. Riwayat pertama dibawakan oleh ‘Umar ‘Abdul Jabbar dalam kamus tarajimnya, Siyar wa Tarajim (hal. 39). ‘Umar ‘Abdul Jabbar mencatat bahwa jabatan imam dan khathib itu diperoleh Syaikh Ahmad berkat permintaan Shalih Al Kurdi, sang mertua, kepada Syarif ‘Aunur Rafiq agar berkenan mengangkat Syaikh Ahmad menjadi imam & khathib. Sedangkan riwayat kedua dibawakan oleh Hamka rahimahullah dalam Ayahku, Riwayat Hidup Dr. ‘Abdul Karim Amrullah dan Perjuangan Kaum Agama di Sumatera yang kemudian dinukil oleh Dr. Akhria Nazwar dan Dadang A. Dahlan. Ustadz Hamka menyebutkan cerita ‘Abdul Hamid bin Ahmad Al Khathib, suatu ketika dalam sebuah shalat berjama’ah yang diimami langsung Syarif ‘Aunur Rafiq. Di tengah shalat, ternyata ada bacaan imam yang salah, mengetahui itu Syaikh Ahmad pun, yang ketika itu juga menjadi makmum, dengan beraninya membetulkan bacaan imam. Setelah usai shalat, Syarif ‘Aunur Rafiq bertanya siapa gerangan yang telah membenarkan bacaannya tadi. Lalu ditunjukkannya Syaikh Ahmad yang tak lain adalah menantu sahabat karibnya, Shalih Al Kurdi, yang terkenal dengan keshalihan dan kecerdasannya itu. Akhirnya Syarif ‘Aunur Rafiq mengangkat Syaikh Ahmad sebagai imam dan khathib Masjid Al Haram untuk madzhab Syafi’i.

Sekelumit Aktifitas Keseharian Syaikh Ahmad Al Khathib

Keseharian para ulama memang sangat menakjubkan. Di setiap aktifitasnya selalu bernilai ibadah, sebagaimana kata pepatah Arab,‘adatul ‘abdid ‘ibadah wa ‘ibadatul ghafil ‘adah (kebiasaannya ahli ibadah itu bernilai ibadah sementara ibadahnya orang lalai itu hanya bernilai kebiasaan saja). Mereka sangat mahir dalam membagi waktu dan sangat berhati-hati dalam menggunakan waktunya. Meski mereka memiliki aktifitas mengajar, akan tetapi tidak lantas melupakan hak keluarganya. Mereka tahu kapan harus bercengkrama dengan keluarga dan kapan harus pergi mengajar para muridnya. Demikianlah yang terjadi pada diri seorang Syaikh Ahmad rahimahullah.
Berhubungan dengan aktifitas keseharian Syaikh Ahmad, sebaiknya kita dengar langsung saja penuturan Syaikh ‘Umar ‘Abdul Jabbar yang memang hidup sezaman, “(Setelah mengajar para santri di Masjid Al Haram), beliau pulang ke rumah untuk sarapan pagi dan berbaring (tidur-tiduran atau dalam bahasa jawa klekaran) sejenak, lalu kembali bermudzakarah sampai datang waktu zhuhur. Pergilah beliau ke masjid untuk menunaikan shalat zhuhur secara berjama’ah. (Usai shalat jama’ah), beliau pulang ke rumah untuk menyampaikan dua mata pelajar an kepada murid-muridnya, lalu makan siang dan tidur siang sesaat. Lalu beliau pergi ke masjid untuk menunaikan shalat ‘Ashar secara berjama’ah, pulang ke rumah menyampaikan satu pelajaran kepada para santri, kemudian mengulangi (mudzakarah) pelajaran-pelajarannya hingga datang maghrib. Beliau pun pergi ke masjid untuk shalat berjama’ah dan menyampaikan satu pelajaran berupa nasehat dan arahan sampai datang ‘Isya.
Setelah shalat, beliau pulang ke rumah untuk makan malam dan bercengkrama dengan keluarganya lalu tidur sedini mungkin. Ia bangun tidur pada sepertiga malam terakhir dan menyibukkan diri dengan menulis sampai dekat waktu fajar, lalu pergi ke masjid. Ia pun memulai aktifitasnya seperti biasanya. Demikianlah beliau menghabiskan hidupnya dalam ketaatan kepada Allah dan menyebarkan agama-Nya.”  [Siyar wa Tarajim (hal. 40)]

Akhlak Syaikh Ahmad Al Khathib

Syaikh Ahmad Al Khathib dikenal ditengah masyarakat dengan baik hatinya, mulia akhlaknya, lurus niatnya, tidak suka menjilat (cari muka), dan amat murka dengan orang-orang yang sombong, dan lapang dadfa.
Itulah akhlak seorang ulama yang benar-benar mengamalkan ilmunya. Meski kedudukannya tinggi, namun beliau tidak sombong. Justru dengan kedudukannya yang tinggi itu, beliau manfaatkan untuk mengajarkan kepada manusia nilai-nilai positif. Maka tidak heran apabila nama beliau harum di kalangan manusia dan bahkan berkat akhlak mulianya itu dapat mengundang ratusan santri dari berbagai kalangan untuk belajar kepadanya.

Wafatnya Syaikh Ahmad

Pada tanggal 9 Jumadil Ula tahun 1334 H, Allah ‘memanggil’ Syaikh Ahmad ke hadhirat-Nya setelah sekian lama hidup di dunia yang fana ini. Ya, jatah beliau tinggal di dunia ini telah habis setelah mencetak kader-kader yang hingga detik ini masih disebut-sebut. Jasad beliau memang sudah tiada, namun kehadirannya seakan-akan masih bisa dirasakan karena keilmuan dan peninggalan-peninggalannya berupa murid-muridnya yang terus memperjuangkan misi-misinya dan terutama karya-karya ilmiahnya yang masih terus dibaca hingga hari ini. Rahimahullah wa askanahu fasiha jannatih.

Karya Tulis Syaikh Ahmad

Karya-karya tulis Syaikh Ahmad dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu karya-karya yang berbahasa Arab dan karya-karya yang berbahasa Melayu dengan tulisan Arab. Kebanyakan karya-karya itu mengangkat tema-tema kekinian terutama menjelaskan kemurnian Islam dan merobohkan kekeliruan tarekat, bid’ah, takhayul, khurafat, dan adat-adat yang bersebrangan dengan Al Quran & Sunnah.
Karya-karya Syaikh Ahmad dalam bahasab ’Arab:
  1. Hasyiyah An Nafahat ‘ala Syarhil Waraqat lil Mahalli
  2. Al Jawahirun Naqiyyah fil A’malil Jaibiyyah
  3. Ad Da’il Masmu’ ‘ala Man Yuwarritsul Ikhwah wa Auladil Akhwan Ma’a Wujudil Ushul wal Furu’
  4. Raudhatul Hussab
  5. Mu’inul Jaiz fi Tahqiq Ma’nal Jaiz
  6. As Suyuf wal Khanajir ‘ala Riqab Man Yad’u lil Kafir
  7. Al Qaulul Mufid ‘ala Mathla’is Sa’id
  8. An Natijah Al Mardhiyyah fi Tahqiqis Sanah Asy Syamsiyyah wal Qamariyyah
  9. Ad Durratul Bahiyyah fi Kaifiyah Zakati Azd Dzurratil Habasyiyyah
  10. Fathul Khabir fi Basmalatit Tafsir
  11. Al ‘Umad fi Man’il Qashr fi Masafah Jiddah
  12. Kasyfur Ran fi Hukmi Wadh’il Yad Ma’a Tathawuliz Zaman
  13. Hallul ‘Uqdah fi Tashhihil ‘Umdah
  14. Izhhar Zaghalil Kadzibin fi Tasyabbuhihim bish Shadiqin
  15. Kasyful ‘Ain fi Istiqlal Kulli Man Qawal Jabhah wal ‘Ain
  16. As Saifu Al Battar fi Mahq Kalimati Ba’dhil Aghrar
  17. Al Mawa’izh Al Hasanah Liman Yarghab minal ‘Amal Ahsanah
  18. Raf’ul Ilbas ‘an Hukmil Anwat Al Muta’amil Biha Bainan Nas
  19. Iqna’un Nufus bi Ilhaqil Anwat bi ‘Amalatil Fulus
  20. Tanbihul Ghafil bi Suluk Thariqatil Awail fima Yata’allaq bi Thariqah An Naqsyabandiyyah
  21. Al Qaulul Mushaddaq bi Ilhaqil Walad bil Muthlaq
  22. Tanbihul Anam fir Radd ‘ala Risalah Kaffil ‘Awwamsebuah kitab bantahan untuk risalah Kafful ‘Awwam fi Khaudh fi Syirkatil Islam karya Ustadz Muhammad Hasyim bin Asy’ari yang melarang kaum muslimin untuk nimbrung di Sarekat Islam (SI)
  23. Hasyiyah Fathul Jawwad dalam 5 jilid
  24. Fatawa Al Khathib ‘ala Ma Warada ‘Alaih minal Asilah
  25. Al Qaulul Hashif fi Tarjamah Ahmad Khathib bin ‘Abdil Lathif

    Adapun yang berbahasa Melayu adalah:
  26. Mu’allimul Hussab fi ‘Ilmil Hisab
  27. Ar Riyadh Al Wardiyyah fi [Ushulit Tauhid wa] Al Fiqh Asy Syafi’i
  28. Al Manhajul Masyru’ fil Mawarits
  29. Dhaus Siraj Pada Menyatakan Cerita Isra’ dan Mi’raj
  30. Shulhul Jama’atain fi Jawaz Ta’addudil Jumu’atain
  31. Al Jawahir Al Faridah fil Ajwibah Al Mufidah
  32. Fathul Mubin Liman Salaka Thariqil Washilin
  33. Al Aqwal Al Wadhihat fi Hukm Man ‘Alaih Qadhaish Shalawat
  34. Husnud Difa’ fin Nahy ‘anil Ibtida’
  35. Ash Sharim Al Mufri li Wasawis Kulli Kadzib Muftari
  36. Maslakur Raghibin fi Thariqah Sayyidil Mursalin
  37. Izhhar Zughalil Kadzibin
  38. Al Ayat Al Bayyinat fi Raf’il Khurafat
  39. Al Jawi fin Nahw
  40. Sulamun Nahw
  41. Al Khuthathul Mardhiyyah fi Hukm Talaffuzh bin Niyyah
  42. Asy Syumus Al Lami’ah fir Rad ‘ala Ahlil Maratib As Sab’ah
  43. Sallul Hussam li Qath’i Thuruf Tanbihil Anam
  44. Al Bahjah fil A’malil Jaibiyyah
  45. Irsyadul Hayara fi Izalah Syubahin Nashara
  46. Fatawa Al Khathib dalam versi bahasa Melayu
Murid-Murid Syaikh Ahmad Rahimahullah

Mengenai murid-murid Syaikh Ahmad rahimahullah, Siradjuddin ‘Abbas berkata, “Sebagaimana dikatakan di atas bahwa hamper ulama Syafi’I yang kemudian mengembangkan ilmu agama di Indonesia, seperti Syeikh Sulaiman Ar Rasuli, Syeikh Muhd. Jamil Jaho, Syeikh ‘Abbas Qadhli, Syeikh Musthafa Purba Baru, Syaikh Hasan Ma’shum Medan Deli dan banyak lagi ulama-ulama Indonesia pada tahun-tahun abad XIV adalah murid dari Syeikh Ahmad Khathib Minangkabau ini.” [Thabaqatus Syafi’iyah (hal. 406)]
Ucapan senada juga dinyatakan penulis Ensiklopedi Ulama Nusantara di banyak tempat.Bahkan Dr. Kareel A. Steenbrink membuat satu pasal dalam Beberapa Aspek:Guru untuk Generasi Pertama Kau Muda. Namun demikian, tidak salah kiranya kita sebutkan di sini beberapa murid-muridnya yang menonjol, baik secara keilmuan maupun dakwah yang mereka lancarkan, di antaranya adalah:
  1. Syaikh ‘Abdul Karim bin Amrullah rahimahullah –ayah Ustadz Hamka-. Seorang ulama kharismatik yang memiliki pengaruh kuat di ranah Minang dan Indonesia. Di antara karya tulisnya adalah Al Qaulush Shahih yang membicarakan tentang nabi terakhir dan membantah paham adanya nabi baru setelah Nabi Muhammad terutama pengikut Mirza Ghulam Ahmad Al Qadiyani.
  2. Muhammad Darwis alias Ustadz Ahmad Dahlan bin Abu Bakar bin Sulaiman rahimahullah –pendiri Jam’iyyah Muhammadiyyah-.
  3. Ustadz Muhammad Hasyim bin Asy’ari Al Jumbangi rahimahullah –salah satu pendiri Jam’iyyah Nahdlatul ‘Ulama-.
  4. Ustadz ‘Abdul Halim Majalengka rahimahullah–pendiri Jam’iyyah I’anatul Mubta’allimin yang bekerja sama dengan Jam’iyyah Khairiyyah dan Al Irsyad
  5. Syaikh ‘Abdurrahman Shiddiq bin Muhammad ‘Afif Al Banjari rahimahullah –mufti Kerajaan Indragiri-.
  6. Muhammad Thaib ‘Umar
  7. Dan lain-lain.
Usaha (Juhud) Syaikh Ahmad dalam Memurnikan Ajaran Islam di Nusantara Khususnya dan Dunia Islam Umumnya

Usaha yang dilancarkan Syaikh Ahmad dalam memurnikan ajaran Islam dari perkara-perkara bid’ah yang menyesatkan namun tidak disadari di Nusantara diekspresikan melalui murid-murid dan karya-karyanya.
Adapun melalui karya-karyanya, Syaikh Ahmad sangat gigih dan keras tanpa kompromi sediktpun dalam memberantas bid’ah, khurafat, tarikat, ajaran menyimpang dan adat yang bertolak belakang dengan syariat. Dalam masalah tarekat, misalnya, Syaikh Ahmad menulis minimal tiga kitab rudud (bantahan), yaitu, Izhhar Zaughalil Kadzibin fi Tasyabbuhihim bish Shadiqin yang kemudian ditranslit ke dalam tulisan latin oleh A. Arief dengan judul Thariqat Naqasyabandiyah, As Saiful Battar fi Mahq Kalimat Ba’dhil Aghrar , dan Al Ayat Al Bayyinat fi Raf’il Khurafat. Bahasan dalam kitab-kitab ini mengacu kepada kitab Al Ba’its fi Inkaril Bida’ wal Hawadits karya Imam Abu Syamah rahimahullah. Menurut Ustadz Hamka, sebagaimana yang dikutib Ustadz Armen Halim Narorahimahullah dalam salah satu kajiannya, metode bantahan kitab ini –Al Izhhar- persis dengan bantahan yang diberikan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah terhadap orang-orang menyimpang di zamannya. Melalui karya-karya ini pula Syaikh Ahmad membantah pandangan Syaikh Muhammad Sa’ad Mungka dan Syaikh Ali Khathib yang gigih mempertahankan tharikat Naqsyabandiyyah.
Sebenarnya melalui judul-judul kitab-kitab Syaikh Ahmad saja kita sudah faham kurang lebihnya bahasan yang disajikan dalam masing-masing kitab trsebut. Misalnya kitab Husnud Difa’ fin Nahy ‘anil Ibtida’ yang berarti pembelaan yang baik tentang larangan melakukan bid’ah, dapat diasumsikan bahasan dalam kitab ini banyak berbicara masalah bid’ah dan khurafat di tengah masyarakat. Ini menunjukkan bahwa usaha Syaikh Ahmad benar-benar sangat berarti dalam pemurniat Islam di negerinya.
Dalam masalah adat yang menyimpang terutama dalam masalah waris dan harta pusaka, Syaikh Ahmad menulis Ad Da’il Mamu’dan Al Manhajul Masyru’. Kedua buku ini dicetak dalam satu jilid dengan Ad Da’il Masmu’ dicetak dipinggiran Al Manhajul Masyru’.
Tidak hanya sapai di situ perjuangan Syaikh Ahmad dalam membersihkan noda-noda keyakinan umat Islam, beliau juga membantah  syubhat-syubhat yang dihembuskan Belanda terutama mempertanyakan keabsahan terjadinya isra’ dan mi’raj di tengah kaum muslimin di Indonesia. Beliau kemudian membantah syubhat-syubhat dalam bukunya, Dha’us Siraj Pada Menyatakan Isra’ dan Mi’raj yang terbit tahun 1312 H. Berikutnya, beliau juga menulis Irsyadul Hayara fi Radd Syubahin Nashara.
Ada kitab Ar Riyadhul Wardiyyah fil Ushul wal Furu’ yang beliau tulis dalam bahasa Melayu huruf ‘Arab, membicarakan masalah dasar-dasar aqidah-tauhid dan fiqih syafi’I praktis supaya menjadi pegangan orang-orang yang balu belajar dan ‘awwam dari kalangan kaum muslimin. Kitab ini sudah dicetak berulang kali. Allahua’lam.[]

sumber:muslim.or.id

Syaikh Umar Baraja ( pengarang kitab akhlaq lil banin )

syekh1.jpgHampir semua santri di pesantren pernah mempelajari buku- buku karya Syaikh Umar Baraja dari Surabaya. Sudah sekitar 11 judul buku yang diterbitkan, seperti Al-Akhlaq Lil Banin, kitab Al-Akhlaq Lil Banat, kiab Sullam Fiqih, kitab 17 Jauharah, dan kitab Ad’iyah Ramadhan. Semuanya terbit dalam bahasa Arab, sejak 1950 telah digunakan sebagai buku kurikulum di seluruh pondok pesantren di Indonesia. Ya, secara tidak langsung Syaikh Umar Baradja ikut mengukir akhlaq para santri di Indonesia.

Buku-buku tersebut pernah di cetak Kairo, Mesir, pada 1969 atas biaya Syeikh Siraj Ka’ki, dermawan Mekkah, yang di bagikan secara cuma-cuma ke seluruh dunia Islam. Syukur alhamdulillah, atas ridha dan niatnya agar buku- buku ini menjadi jariyah dan bermanfaat luas, pada 1992 telah di terbitkan buku-buku tersebut ke dalam bahasa Indonesia, Jawa, Madura, dan Sunda.

Selain menulis buku pelajaran , Syaikh Umar juga menulis syair-syairnya dalam bahasa Arab dengan sastranya yang tinggi. Menurut ustadz Ahmad bin Umar, putra tertuanya, cukup banyak dan belum sempat dibukukan. Selain itu, masih banyak karya lain, seperti masalah keagamaan, yang masih bertuliskan tangan dan tersimpan rapi dalam perpustakaan keluarga.

Kepandaiannya dalam karya tulis, disebabkan dia menguasai bahasa Arab dan sastranya, ilmu tafsir dan Hadits, ilmu fiqih dan tasawuf, ilmu sirah dan tarikh. Ditambah, penguasaan bahasa Belanda dan bahasa Inggris.

Syaikh Umar bin Achmad Baradja lahir di kampung Ampel Maghfur, pada 10 Jumadil Akhir 1331 H/17 Mei 1913 M. Sejak kecil dia diasuh dan dididik kakeknya dari pihak ibu, Syaikh Hasan bin Muhammad Baradja , seoarang ulama ahli nahwu dan fiqih.

Nasab Baradja berasal dari (dan berpusat di) Seiwun, Hadramaut, Yaman. Sebagai nama nenek moyangnya yang ke-18, Syaikh Sa’ad, laqab(julukannya) Abi Raja’ (yang selalu berharap). Mata rantai keturunan tersebut bertemu pada kakek Nabi Muhammad SAW yang kelima , bernama Kilab bin Murrah.

Pada masa mudanya, Umar Baradja menuntut ilmu agama dan bahasa Arab dengan tekun, sehingga dia menguasai dan memahaminya. Berbagai ilmu agama dan bahasa Arab dia dapatkan dari ulama, ustadz, syaikh, baik melalui pertemuan langsung maupun melalui surat. Para alim ulama dan orang-orang shalih telah menyaksikan ketaqwaan dan kedudukannya sebagai ulama yang ‘amil. Ulama yang mengamalkan ilmunya.

Dia adalah salah seorang alumnus yang berhasil, didikan madrasah Al-Khairiyah di kampung Ampel, Surabaya, yang didirikan dan dibina Al-habib Al-Imam Muhammad bin Achmad Al-Muhdhar pada 1895. Sekolah yang berasaskan Ahlussunnah wal Jama’ah dan bermadzhab Syafi’i.

Guru-guru Syaikh Umar Baradja, antara lain:
Al-Ustadz Abdul Qodir bin Ahmad bil Faqih (Malang)
Al-Ustadz Muhammad bin Husein Ba’bud (Lawang)
Al-Habib Abdul Qodir bin Hadi Assegaf
Al-Habib Muhammad bin Ahmad Assegaf (Surabaya)
Al-Habib Alwi bin Abdullah Assegaf (Solo)
Al-Habib Ahmad bin Alwi Al- Jufri (Pekalongan)
Al-Habib Ali bin Husein Bin Syahab
Al-Habib Zein bin Abdullah Alkaf (Gresik)
Al-Habib Ahmad bin Ghalib Al-Hamid (Surabaya)
Al-Habib Alwi bin Muhammad Al- Muhdhar (Bondowoso)
Al-Habib Abdullah bin Hasa Maulachela
Al-Habib Hamid bin Muhammad As-Sery (Malang)
Syaikh Robaah Hassunah Al-Kholili (Palestina)
Syaikh Muhammad Mursyid (Mesir) – keduanya tugas mengajar di Indonesia.

Guru-gurunya yang berada di luar negeri diantaranya
Al-Habib Alwi bin Abbas Al-Maliki
As-Sayyid Muhammad bin Amin Al-Quthbi
As-Syaikh Muhmmad Seif Nur
As-Syaikh Hasan Muhammad Al-Masysyath
Al-Habib Alwi bin Salim Alkaff
As-Syaikh Muhammad Said Al- Hadrawi Al-Makky (Mekkah)
Al-Habib Muhammad bin Hady Assegaf(Seiwun, Hadramaut, Yaman)
Al-Habib Abdullah bin Ahmad Al-Haddar
Al-Habib Hadi bin Ahmad Al-Haddar (‘inat, Hadramaut, Yaman)
Al-habib Abdullah bin Thahir Al-Haddad (Geidun, Hadaramaut, Yaman)
Al-Habib Abdullah bin Umar Asy-Syatiri (Tarim, Hadramaut, Yaman),
Al-Habib Hasan bin Ismail Bin Syeikh Abu Bakar (‘inat, Hadramaut, Yaman)
Al-Habib Ali bin Zein Al-Hadi, Al-Habib Alwi bin Abdullah Bin Syahab (Tarim, Hadramaut, Yaman)
Al-Habib Abdullah bin Hamid Assegaf (Seiwun, Hadramaut, Yaman)
Al-Habib Muhammad bin Abdullah Al- Haddar (Al-Baidhaa, Yaman)
Al-Habib Ali bin Zein Bilfagih (Abu Dhabi, Uni Emirat Arab)
As- Syaikh Muhammad Bakhit Al-Muthii’i (Mesir)
SayyidiMuhammad Al-Fatih Al-Kattani (Faaz, Maroko)
Sayyidi Muhammad Al-Munthashir Al- Kattani (Marakisy, Maroko)
Al-Habib Alwi bin Thohir Al-Haddad (Johor, Malaysia)
Syeikh Abdul ‘Aliim As-Shiddiqi (India)
Syaikh Hasanain Muhammad Makhluf (Mesir)
Al-Habib Abdul Qodir bin Achmad Assegaf (Jeddah, Arab Saudi)

Syaikh Umar mengawali kariernya mengajar di Madrasah Al-Khairiyah Surabaya tahun 1935-1945, yang berhasil menelurkan beberapa ulama dan asatidz yang telah menyebar ke berbagai pelosok tanah air. Di Jawa Timur antara lain:
almarhum al-ustadz Achmad bin Hasan Assegaf
almarhum Al-Habib Umar bin Idrus Al-Masyhur
almarhum al-ustadz Achmad bin Ali Babgei
Al-habib Idrus bin Hud Assegaf
Al-habib Hasan bin Hasyim Al-Habsyi
Al-habib Hasan bin Abdul Qodir Assegaf
Al-Ustadz Ahmad Zaki Ghufron
dan Al-Ustadz Dja’far bin Agil Assegaf.

Kemudian, dia pindah mengajar di Madrasah Al- Khairiyah, Bondowoso. Berlanjut mengajar di Madrasah Al-Husainiyah, Gresik tahun 1945-1947. Lalu mengajar di Rabithah Al- Alawiyyah, Solo, tahun 1947-1950. Mengajar di Al-Arabiyah Al-Islamiyah, Gresik tahun 1950-1951. Setelah itu, tahun 1951-1957, bersama Al-habib Zein bin Abdullah Al-kaff, memperluas serta membangun lahan baru, karena sempitnya gedung lama, sehingga terwujudlah gedung yayasan badan wakaf yang di beri nama Yayasan Perguruan Islam Malik Ibrahim.

Selain mengajar di lembaga pendidikan, Syaikh Umar juga mengajar di rumah pribadinya, pagi hari dan sore hari, serta majelis ta’lim atau pengajian rutin malam hari. Karena sempitnya tempat dan banyaknya murid, dia berusaha mengembangkan pendidikan itu dengan mendirikan Yayasan Perguruan Islam atas namanya, Al-Ustadz Umar Baradja. Ini sebagai perwujudan hasil pendidikan dan pengalamannya selama 50 tahun. Hingga kini masih berjalan, dibawah asuhan putranya, Al- Utadz Achmad bin Umar Baradja.

Amal ibadahnya meluas ke bidang lain, sehingga memerlukan dana yang cukup besar, dia juga menggalang dana untuk kebutuhan para janda, fakir miskin, dan yatim piatu khususnya para santrinya, agar mereka lebih berkonsentrasi dalam menimba ilmu. Menjodohkan wanita-wanita muslimah dengan pria muslim yang baik menurut pandangannya, sekaligus mengusahakan biaya perkawinannya dengan dukungan dana dari Al-habib Idrus bin Umar Alaydrus.

Salah satu karya monumentanya adalah membangun Masjid Al-Khair (danakarya I-48/50, Surabaya) pada tahun 1971, bersama KH. Adnan Chamim, setelah mendapat petunjuk dari Al-Habib Sholeh bin Muhsin Al-Hamid (Tanggul) dan Al-habib Zein bin Abdullah Al-Kaff (Gresik). Masjid ini sekarang digunakan untuk berbagai kepentingan dakwah masyarakat Surabaya.

Penamplan Syeikh Umar sangat bersahaja, tetapi dihiasi sifat-sifat ketulusan niat yang disertai keikhlasan dalam segala amal perbuatan duniawi dan ukhrawi. Dia juga mejabarkan akhlaq ahlul bait, keluarga Nabi dan para sahabat, yang mencontoh baginda Nabi Muhammad SAW. Dia tidak suka membangga- banggakan diri, baik tentang ilmu, amal, maupun ibadah. Ini karena sifat tawadhu’ dan rendah hatinya sangat tinggi.

Dalam beribadah, dia selalu istiamah baik sholat fardhu maupun sholat sunnah qabliyah dan ba’diyah. Sholat dhuha dan tahajud hampir tidak pernah dia tnggalkan walaupun dalam bepergian. Kehidupannya dia usahakan untuk benar-benar sesuai dengan yang digariskan agama.

Cintanya kepada keluarga Nabi SAW dan dzurriyyah atau keturunannya, sangat kenal tak tergoyahkan. Juga kepada para sahabat anak didik Rasulullah SAW. Itulah pertanda keimanan yang teguh dan sempurna.

Dalam buku Kunjungan Habib Alwi Solo kepada Habib Abubakar Gresik,Catatan Habib AbdulKadir bin Hussein Assegaf (Penerbit Putra Riyadi : 2003), disebutkan,”… kami (rombongan Habib Alwi bin Alwi Al-Habsyi) berkunjung ke rumah Syaikh Umar bin Ahmad Baradja (di Surabaya). Kami dengar saking senangnya, ia sujud syukur di kamar khususnya. Ia meminta Sayyidi Alwi untuk membacakan doa dan Fatihah.”(hlm.93).

Sifat wara’-nya sangat tinggi. Perkara yang meragukan dan syubhat dia tinggalkan, sebagaimana meninggalkan perkara-perkara yang haram. Dia juga selalu berusaha berpenampilan sederhana. Sifat Ghirah Islamiyah (semangat membela Islam) dan iri dalam beragama sangat kuat dalam jiwanya. Konsistensinya dalam menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, misalnya dalam menutup aurat, khususnya aurat wanita, dia sangat keras dan tak kenal kompromi. Dalam membina anak didiknya, pergaulan bebas laki-perempuan dia tolak keras. Juga bercampurnya murid laki-dan perempuan dalam satu kelas.

Pada saat sebelum mendekati ajalnya, Syaikh umar sempat berwasiat kepada putra-putra dan anak didiknya agar selalu berpegang teguh pada ajaran assalaf asshalih. Yaitu ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah, yang dianut mayoritas kaum muslim di Indonesia dan Thariqah ‘Alawiyyah, dan bermata rantai sampai kepada ahlul bait Nabi, para sahabat, yang semuanya bersumber dari Rasulullah SAW.

Syaikh Umar memanfaatkan ilmu, waktu, umur, dan membelanjakan hartanya di jalan Allah sampai akhir hayatnya. Ia memenuhi panggilan Rabb-nya pada hari Sabtu malam Ahad tanggal 16 Rabiuts Tsani 1411 H/3 November 1990 M pukul 23.10 WIB di Rumah Sakit Islam Surabaya, dalam usia 77 Tahun.

Keesokan harinya Ahad ba’da Ashar, ia dimakamkan, setelah dishalatkan di Masjid Agung Sunan Ampel, diimami putranya sendiri yang menjadi khalifah (penggantinya), Al- Ustadz Ahmad bin Umar Baradja. Jasad mulia itu dikuburkan di makam Islam Pegirian Surabaya. Prosesi pemakamannya dihadiri ribuan orang.

Tuesday, August 20, 2013

nama-nama para nabi الأسمأ الأنبيإ

berikut ini nama nama nabi yang tercatat dalam kitab tsimarul yabi'ah karangan sekh nawawi al bantani al jawi
الأسمأ الأنبيإ ادم,شيث انوش قيناق مهيائيل أخنوخ إدريس نوح هود عبهف مرداريم شارع صالـح أرفخشد صفوان حنضلة لوط عصان إبرهيم إسماعيل إسحاق يعقوب يوسف شمائيل شعيب موسى لوطان يعوا هرون كليل يوشع دنيل بونش بليا أرميا يونس إلياس داود سليمان إليسع أيوب اوس ذانين الهميع ثابت غابر هميلان ذوالكفل عزير عزقلان عزا الون زاين عازم هربد شازن سعد غالب شماس شمعون فياض قضا سارم عيناض سايم عوضون بيوزر كزول باسل باسان لاخين غلضات رسوغ رشعين المون لوغ برسوا الاظيم رشاد شريب هيبل ميلان عمران هريب جريت شماع صريخ سفان قبيل ضعضع عيصون عيصف صديف برواء حاصيم هيان عاصم وجان مصداع عريس شرحبيل حربيلو حزقيل عيصون عيصف صديف برواء حاصيم هيان عاصم وجان مصداع عاريص شرحبيل حربلو حزقيل اشموئيل غمصان كببر سباط عباد بثلخ ريهان عمدان مرقان حنان لوحنا ولام بعيول بصاص هبان أفليق قزيم نصير أوريس مضعس جذيمة شروحيل معنائيل مدرك حارم بارغ هرميل جابذ زرقان أصفون برجاج ناوى هزراين أشبيل عطاف مهيل زنجيل شمطان القوم حوبلد صالح سانوخ راميل زاميل قاسم بييل بازل كبلان باتر حاجم جاوح جامر حاجن راسل واسم رادن سادم شوشا جازان صاحد صحبان كلوان صاعد غفران غاير لاحون بلدخ هيدان لاوى هيراء ناصى حافك حافيخ كاشيخ لافث نايم حاشم هجام ميزاد أسيمان رحيلا لاطف برطفون أبان عورئض مهمتصر عنين نماخ هندويل مبصل مضعتام طميل طابيح مهمم حجرم عدون منبد بارون روان معبن مزاحم يانيد لامى فردان جابر سلوم عيص هربان جابوك عبوج مينات قانوح دربان صاخم حارض حراض حرقيا نعمان أزميل مزحم ميداس يانوح يانونس ساسان فريم فريوش صحيب ركن عامر سحنق زاخون حينيم عياب صباح عرفون مخلاد مرحم صانيد غالب عبدالله أدرزين عدسار ززهران بايع نظير هورين كايوشيم فتوان عابون رباخ صابح مسلون حجان روبال ربون معيلا سايعان ارجيل بيغين متضح رحين محراس سخين حرفان مهمون حوضان ألبؤن وعد رخيول بيغان بتيحور حوظبان عامل زهرام عيس صبيح يطبع جارح صهيب صبحان كلمان يوخى سميون عرضون حوحر يلبق بارع عائيل كنعان حفضون حسمان يسمع عرفون عرمين فضحان صفا شمعون رصاص أقلبون شاخيم خجئيل أخيال هياج زكريا يحي جرجيس عيسى ابن مريم محمد صلىﷲ عليه وسلم عليهم اجمعين

Tuesday, July 2, 2013

prestasi INDONESIA yang menDUNIA

Kali ini saya mau mencoba memberi info tentang Negara kita yang ternyata memiliki keunggulan-keunggulan dan mencatat banyak prestasi gemilang di kancah dunia yg patut di banggakan. Apa aja ya kira-kira ?

Star 50 Buatan PT PAL Indonesia merupkan salah satu kapal terbaik di dunia

Kapal Star 50 memiliki Panjang 189.840m & lebar 30.50m merupakan slah satu kapal terbaik di dunia untuk kelas 50.000 ton dan sepenuhnya hasil rancang bangun putra-putri Indonesia. Menggunakan kandungan lokal 35 % - 45 % dengan bahan-bahan berkualitas tinggi. Azurite Onvest Ltd, British Virgin ILand, Singapura adalah salah satu yg memesan kapal jenis ini setelah Hongkong (4 unit), Jerman (2 unit), Turki (2 unit).


Toyota Kijang Innova, Mobil terpopuler di Uni Emirat Arab. Sepenuhnya diproduksi di Indonesia

Uni Emirat Arab, siapa sangka kalo di Negara yg banyak mendatangkan mobil-mobil mewah dunia itu, Toyota Innova justru merupakan mobil terpopuler di sana. Hebatnya ternyata tidak ada tempat di dunia yg memproduksi mobil ini selain di Indonesia. Berbagai perusahaan otomotif jepang diam-diam telah menempatkan Indonesia sebagai basis produksi untuk pasar Luar negri yg tentu melibatkan banyak insinyur dan tenaga ahli Indonesia.


Airbridge (tangga belalai menuju pintu pesawat) yang terkenal di bandara dunia pertamakali dibuat oleh PT Bukaka Teknik Utama, Indonesia

Wajib agan ketahui kalo Aircraft Passenger Boarding Bridge (Airbridge) pertama kalo diciptakan oleh perusahaan industri di Indonesia yaitu PT Bukaka Teknik Utama. Perusaan ini bergerak di pembuatan Airbridge. Pada awalnya perusahaan ini berbentuk sebuah bengkel kecil diatas lahan seluas 3.000 M2 dengan luas bangunan 1.000 M2 dengan peralatan sederhana seperti 4 buah mesin las, sebuah mesin bubut, sebuah genset 65 KVA dan beberapa peralatan lainya.


Knalpot Mercedes Benz adalah buatan Indonesia (industrinya berada di Purbalingga)

Industri knalpot mobil yg berada di Purbalingga, di percaya menjadi pemasok produsen Mercedes Benz karena dinilai punya kualitas baik. Perusahaan mewah asal Jerman tersebut memesan sebanyak 1.000 unit knalpot. Pemesanan ini sudah berjalan sejak tahun 2004. setiap knalpot terdiri dari 2 bagian. Harga perunit sebesar Rp 2 juta. Terakhir pihak Mercy sudah memesan lagi knalpot sebanyak 1.000 unit mobil seri terbarunya.


Seragam Serdadu NATO diproduksi oleh PT Sritex, Solo, Jawa Tengah

Agan tau gak kalo seragam militer North Atlantic Treaty Organization (NATO) yg dipakai ratusan anggota militer baik Eropa, Amerika dan Asia menggunakan seragam buatan pabrik yang berlokasi di Skoharjo. Produk Sritex telah diakui memenuhi standar NATO sehingga dipercaya memproduksi seragam militer anggota NATO. Perusahaan ini juga melayani pembuatan seragam militer untuk 25 negara (Indonesia, Australia, Brunei, Kamboja, Siprus, Inggris, Jerman, Kuwait, Lebanon, Nepal, Oman, Qatar, Swis dll)


Gamelan Menjadi Kurikulum Sekolah Di New Zealand, Singapura, Jepang dan Amerika Serikat

Gamelan ternyata telah menjadi salah satu kurikulum tetap di New Zealand School of Music (NZSM) dengan kode mata kuliah PERF250 – special Indonesian Gamelan. Pada th 2011 jumlah mahasiswa mencapai 23 orang melebihi batas maksimal yaitu 18 orang. Di Singapura Gamelan dijadikan sebagai mata pelajaran wajib di sekolah dasar. Sementara di Amerika Gamelan Jawa sudah terkenal di berbagai Universitas unggulan, seperti di Berkley, San Jose University, Lewis and Clark College, Michigan dll.di jepang gamelan juga udah jadi media ajar di berbagai universitas.


Brand Internasional Gucci & Christian Dior menggunakan bahan baku kain tenun asli Indonesia

Brand Internasional Gucci & Christian Dior menganggap tenun Indonesia sangat berharga karna handmade (buatan tangan). Itulah yang membuat brand internasional seperti mereka mau bekerja sama dengan pengerajin Indonesia dan menjadi kebanggaan melihat kain asli Indonesia tampil di runway designer internationalmulai dari Milan, Paris dan London


Tas Bagteria buatan Indonesia terpampang di berbagai Etalasae mall kelas atas di 32 negara

Tas merk Bagteria merupakan hasil karya Ibu Nancy Go, seorang wanita Indonesia keturunan Brazil. Dengan Modal Rp 300 juta pada bulan mei 2000 ia membuat workshop pembuatan tas yang letaknya di Jakarta Barat. Saat ini merek Bagteria di Eropa dan Amerika sudah setaraf dengan Louis Vuitton, Chanel, atau Cristian Lacroix. Artis luar yg memakai tas ini antara lain Paris Hilton, Zara Philips (cucu ratu Elizabeth II), Emma Thomson dll.


Kimilsungia, Bunga nasional Korea Utara Berasal dari Indonesia

Nama bunga ini di beri nama oleh presiden Soekarno ketika memberikan hadiah bunga ke pada Kim Il Sung yg berulang tahun dan melakukan kunjungan ke Indonesia, Bung Karno berinisiatif memberi nama pada bunga anggrek tersebut kemudian munculah nama “Kimilsungia” yang merupakan gabungan nama Kim Il Sung dan Indonesia. Sejak saat itu bunga uni dijadikan sbgai bunga masional KORUT.


Batik Indonesia Mendunia

Batik sudah ada sejak kerajaan jaman dulu di Indonesia , dimana dulu batik merupakan kesenian/kerajinan kebudayaan keluarga kerajaan, terutama di pulau jawa. Selain itu seorang Desainer batik Nusjirwan Tirtaamidjaja (Iwan Tirta) karya-karya batiknya disukai dan dipakai oleh beberapa kepala Negara seperti Ratu Elozabeth II, Ratu Sophie dari Spanyol, Ratu Juliana dari Belanda bahkan Bill Clinton

SAWAH TERASERING TERCANTIK


1. Terasering di Bali



 Sawah berteras-teras dapat ditemukan hampir di seluruh pulau Bali. Masyarakat Bali bergantung pada metode pertanian ini selama hampir 2000 tahun. Di tengah-tengah pulau Bali, tepatnya di sebelah utara desa Tegallalang di Ubud, terdapat serangkaian sawah teras yang menjadi favorit bagi para wisatawan dan para fotografer. Sawah bertingkat seperti ini juga dapat ditemukan di Sayan, Jatiluwih, Pupuan dan Tabanan. Di Bali, sawah berteras seperti ini dikerjakan sesuai dengan tatanan sosial yang terorganisir dengan baik, yang disebut subak. Subak mengelola dan mendistribusikan sumber air irigasi dengan jadwal yang ketat, sehingga seluruh sawah ini dapat terairi dengan baik.


2. Teras Sawah



Teras sawah ini terletak di pusat pegunungan Cordillera di Filipina dan berada di ketinggian 1525 meter. Teras yang bertingkat-tingkat ini dibuat dengan tangan tanpa alat-alat modern oleh orang-orang suku Ifugao dan telah memproduksi beras selama hampir 2.000 tahun. Terasnya sendiri begitu banyak, curam, dan padat, sehingga jika sawah ini diukur dari ujung ke ujung, maka akan sama dengan panjang dari setengah keliling dunia. Sayangnya, akhir-akhir ini, sawah ini mulai ditinggalkan, karena semakin banyak orang suku Ifugao yang bermigrasi ke kota-kota.


3. Teras Sawah Sa Pa


Sa Pa adalah sebuah kota yang terletak di barat laut Vietnam dekat perbatasan dengan China. Sawah yang berteras-teras, adalah salah satu daya tarik wisata yang paling populer di Vietnam, dan dapat ditemukan di lembah Muong Hoa antara kota Sa Pa dan Gunung Fansipan. Suku di daerah setempat, Hmong, Giay, Dao, Tay, dan Giay, menanam padi dan jagung bersama dengan sayuran pada sawah teras ini.


4. Teras Sawah Longji


Teras sawah di Longji yang berarti "tulang punggung naga" ini dibangun lebih dari 500 tahun yang lalu selama pemerintahan Dinasti Ming. Teras sawah ini dapat ditemukan di Longsheng sekitar dua jam perjalanan dari Guilin. Teras sawah di Longsheng ini dibuat karena lahan pertanian yang terbatas dan kurangnya pasokan air.


5. Teras Sawah Hani


Teras sawah Hani terletak di bawah desa-desa di sisi pegunungan Ailao di Yuanyang, dan telah dibudidayakan selama lebih dari 1.000 tahun. Dibuat dengan tangan oleh orang-orang Hani, sawah ini telah merubah sebuah bukit tandus menjadi surga sub-tropis yang rimbun. Teras ini menghasilkan padi dan ikan yang cukup untuk ratusan ribu orang. Air untuk irigasinya sendiri berasal dari hutan hujan di puncak bukit. Sawah yang tergenang pada bulan Desember hingga Maret ini, menyajikan pemandangan yang spektakuler bagi para wisatawan.


6. Lembah Douro


Lembah Douro terletak di utara Portugal, agak jauh dari kota Porto. Bukit-bukit di lembah ini ditutupi dengan kebun berteras-teras yang ditanami dengan anggur. Pemandangan di lembah ini secara spektakuler akan berubah sepanjang tahun seiring tanaman yang mulai matang. Pada musim gugur tanaman berwarna kemerahan dan keemasan, sedangkan pada bulan Februari sampai Maret almond yang mekar memberikan warna pink keputihan ke wilayah tersebut.


7. Salinas de Maras


Salineras de Maras telah digunakan selama berabad-abad, dan merupakan tambang garam langsung dari mata air alami yang mengandung garam dalam konsentrasi tinggi. Teras-teras ini berjumlah sekitar 3.000. Ketika air diuapkan oleh matahari, lapisan garam yang tebal akan tertinggal. Garam ini kemudian dipotong menjadi lempengan besar dan diangkut ke pasar. Seperti di beberapa sawah di Asia, teras garam ini diwariskan dari generasi ke generasi, dan telah digunakan selama berabad-abad.


8. Moray


Moray adalah semacam laboratorium pertanian peninggalan Inca di Peru yang digunakan untuk membudidayakan varietas tanaman unggulan. Moray berisi beberapa teras melingkar, yang dapat digunakan untuk mempelajari efek dari kondisi iklim yang berbeda pada tanaman. Karena, teras yang lebih rendah juga memiliki suhu yang lebih rendah. Teras paling bawah adalah sekitar 150 meter dalamnya dengan perbedaan suhu hingga 15 ° C antara bagian paling atas.


9. Pisac


Teras Pisacdibangun oleh suku Inca, yang masih digunakan saat ini untuk membudidayakan 16 jenis tanaman yang berbeda. Pisac adalah kata Quechua, yang berarti "ayam hutan". Tradisi Inca adalah membangun kota dalam berbagai bentuk burung dan hewan, salah satunya, adalah Pisac yang berbentuk ayam hutan.


10. Ollantaytambo


Lembah-lembah di sepanjang Ollantaytambo ditutupi oleh serangkaian teras pertanian yang dimulai di bagian bawah lembah dan sampai atas bukit-bukit di sekitarnya. Teras ini membuat lahan yang tadinya tidak dapat digunakan untuk pertanian menjadi lumbung pangan bagi masyarakat di sekitarnya.


diambil dari googeli77.com

Saturday, June 29, 2013

TEACHER 'N FRIED














































asal usul phoenix


Phoenix merupakan simbol mitologi kuno untuk keabadian dan kebangkitan. Phoenix banyak pula dipakai dalam budaya novel, misalnya pada novel Harry Potter karya J.K Rowling. Di novel tersebut, Phoenix digabmarkan dapata menghilang dengan cahaya menyilaukan, menyembuhkan luka dengan air matanya dan sebagainya.

Asal Mula Phoenix

Phoenix adalah burung legendaris yang bersal dari mitologi Yunani, Romawi dan Mesir Kuno. Konon phoenix dapat hidup selama 500 tahun lalu mati dan terlahir kembali. Phoenix memiliki bulu berwarna merah tua keemasan dan berukuran sebesar burung elang.

Tepat sebelum mati, burung Phoenix membuat sarang dari tumbuhan herbal diantantaranya kayu manis dan kemenyan. Lalu Phoenix sengaja membakar sarangnya dan mati. Namun Phoenix baru lahir dari sisa-sisa sarang yang terbakar.

Ketika Phoenix muda sudah cukup kuat, ia akan mengumpulkan abu Phoenix yang mati ke dalam semacam telur yang terbuat dari kemenyan. Lalu Phoenix muda membawa telur tersebut ke Heliopolis, kota matahari zaman Mesir Kuno dan meletakannya di altar Dewa Matahari (Dewa Ra).

Phoenix diasosiasikan dengan kehidupan abadi dan reinkarnasi pada zaman Mesir Kuno. Bangsa Romawi Kuno menggunakan Phoenix dalam koinnya untung melambangkan Kota Roma.


 Phoenix merupakan burung imajiner berukuran sebesar bangau. Bentuk fisik burung ini mungkin dipengaruhi oleh bangau. Arkeologis menemukan bahwa bangau berukuran sangat besar hidup di sekitar Teluk Persia pada 5.000 tahun lalu. Ada spekulasi bahwa mungkin burung ini terlihat oleh pengembara Mesir Kuno lalu tersebar isu bahwa burung bangau yang sangat bersar terlihat sekali dalam 500 tahun di Mesir.

Phoenix memiliki dua bulu panjang di bagian puncak kepalanya dan sering digambarkan bermahkota Osiris. Dalam mitologi Mesir Kuno, Phoenix disebut juga Bennu. Bennu diperkirakan berasal dari kata "weben" yang berarti "bangkit" atau "bersinar". Phoenix dianggap mewakili jiwa Dewa Matahari, yaitu Dewa Ra. Pada periode akhir Mesir Kuno, hieroglip Phoenix digunakan untuk melambangkan dewa. Phoenix juga melambangkan kebangkitan Osiris.

Phoenix Dalam Mitologi Mesir

Menurut bangsa Mesir, Phoenix merupakan burung mitos yang berukuran sebesar elang dengan bulu keemasan dan suara yang melodius. Konon phoenix membuat sarangnya di dekat sumur dan muncul setiap subuh untuk menyanyikan melodi yang sangat indah sehingga Dewa Matahari pun menyimaknya.

Hanya ada satu Phoenix yang hidup dalam 500 tahun. Jika akan mendekati ajalnya, Phoenix akan membuat sarang dari cabang-cabang tumbuhan herbal lalu membakar dirinya bersama sarangnya. Setelah tiga hari, Phoenix baru muncul dari abu sisa-sisa sarang yang terbakar. Konon, Phoenix baru tersebut muncul dari tengah-tengah api. Phoenix muda kemudian mengumpulkan abu Phoenix pendahulunya dalam sebuah telur dan membawanya ke Heliopolis untuk diletakan di altar Dewa Matahari.

Phoenix melambangkan kematian dan kelahiran matahari. Phoenix dideskripsikan menyerupai burung bangau atau burung elang. Makanan dan minuman Phoenix adalah embun. Phoenix tidak membunuh hewan apapun dan tidak merusak apapun yang disentuhnya. Bangsa Mesir Kuno menganggap burung ini sebagai raja burung, Julukan lain adalah burung matahari, burung Assyria, burung Mesir, dan burung Sungai Gangga.

Catatan mengenai Phoenix kali pertama dibuat oleh Hesiod pada abad ke-8 SM. Namun catatan yang lebih mendetail ditulis oleh Herodotus dari Halicanassus, yaitu seorang sejarahwan Yunani Kuno termasyhur pada abad ke-5 SM.

Phoenix Dalam Mitologi Cina

Phoenix dalam Mitologi Cina merupakan simbol kebajikan dan rahmat, serta kekuatan dan kemakmuran. Phoenix melambangkan keseimbangan yin dan yang. Menurut bangsa Cina Phoenix merupakan burung yang lemah lembut, ia turun dengan sangat hati-hati sehingga tidak merusak apapun yang dipijak dan disentuhnya. Phoenix dianggap kekuatan yang dikirim dari surga yang ditujukan untuk kaisar.

Jika Phoenix yang digunakan untuk dekorasi rumah, maka melambangkan kesetiaan dan kejujuran penghuni rumah terseut. Perhiasan dengan motif Phoenix melambangkan pemakainya yang menjunjung moral tinggi. Jadi simbol Phoenix hanya bisa dipakai oleh seseorang penting.

Menurut bangsa Cina Phoenix digambarkan memiliki paruh seperti ayam, wajah seperti burung walet, leher seperti ular, dada seperti angsa, punggung seperti kura-kura dan ekor seperti ikan.

Phoenix dalam mitologi cina disebut juga Feng Huang. Penggambaran Feng Huang yang paling umum adalah ia sedang menyerang ular dengan cakar dan sayapnya mengembang. Sesungguhnya, gambaran Phoenix munculdi Cina selama 7000 tahun. Biasanya gambar Phoenix muncul pada giok dan merupakan simbol keberuntungan. Meskipun pada masa Dinasti Han, Phoenix jantan dan betina yang saling berhadapan digunakan untuk simbol yang mewakili arah selatan.

Phoenix dalam versi Cina memiliki bulu hitam, putih, merah, hijau dan kuning yang konon menggambarkan kebajikan dan kesetiaan penganut Confucius. Simbol Phoenix biasa diletakan pada buku-buku tebal dan kuburan.

Phenix dalam Mitologi Jepang

Phoenix versi Jepang disebut juga Ho-Oo. Ho adalah Phoenix jantan dan Oo adalah Phoenix betina. Phoenix pertama kali diperkenalkan pada periode Asuka (sekitar pertengahan abad ke-6 hingga pertengahan abad ke-7). Gambaran Ho-Oo menyerupai Feng-Huang, yaitu Phoenix versi Cina.

Ho-Oo sering digambarkan bersarang di pohon paulownia dan diperkirakan hanya muncul saat penguasa yang berbudi luhur lahir dan saat pergantian era, yaitu ketika Phoenix turun dari surga untuk melakukan perbuatan baik pada manusia. Dalam cerita lainnya, Ho-Oo muncul hanya pada masa yang penuh perdamaian dan kemakmuran, yang sangat jarang terjadi.

Ho-Oo digunakan sebagai simbol keluarga bangsawan, terutama keluarga kaisar. Ho-Oo mewakili matahari, keadilan, kesetiaan, dan kepatuhan. 


di ambil dr kaskus.co.id

ASAL USUL NINJA

Ninja atau Shinobi (忍者 atau 忍び) (dalam bahasa Jepang, secara harfiah berarti "Seseorang yang bergerak secara rahasia") adalah seorang mata - mata zaman feodal di Jepang yang terlatih dalam seni ninjutsu (secara kasarnya "seni pergerakan sunyi") Ninja, seperti samurai, mematuhi peraturan khas/ Clan mereka sendiri, yang disebut ninpo. Menurut sebagian pengamat ninjutsu, keahlian seorang ninja bukanlah pembunuhan tetapi penyusupan. Ninja berasal dari bahasa Jepang yang berbunyi nin yang artinya menyusup. Jadi, keahlian khusus seorang ninja adalah menyusup dengan atau tanpa suara.

Ninja biasanya segera dikaitkan dengan sosok yng terampil beladiri, ahli menyusup dan serba misterius seperti yang tampak di dalam
film atau manga (komik Jepang). Kata ninja terbentuk dari dua kata yaitu nin (?)sha (?) yang masing-masing artinya adalah "tersembunyi" dan "orang". Jadi ninja adalah dan mata-mata profesional pada zaman feudal jepang. Sejarah ninja juga sangat sulit dilacak. Info mengenai keberadaan mereka tersimpan rapat-rapat dalam dokumen-dokumen rahasia.
Ninja juga bisa diartikan sebagai nama yang diberikan kepada seseorang yang menguasai dan mendalami seni bela diri ninjutsu. Nin artinya pertahanan dan jutsu adalah seni atau cara. Kata ninja juga diambil dari kata ninpo. Po artinya adalah falsafah hidup atau dengan kata lain ninpo adalah falsafah tertinggi dari ilmu beladiri ninjutsu yang menjadi dasar kehidupan seorang ninja. Jadi ninja akan selalu waspada dan terintregasi pada prinsip ninpo.

Ninja adalah mata-mata profesional di zaman ketika para samurai masih memegang kekuasaan tertinggi di pemerintahan Jepang pada abad ke-12. Pada abad ke-14 pertarungan memperebutkan kekuasaan semakin memanas, informasi tentang aktivitas dan kekuatan lawan menjadi penting, dan para ninja pun semakin aktif. Para ninja dipanggil oleh
daimyo untuk mengumpulkan informasi, merusak dan menghancurkan gudang persenjataan ataupun gudang makanan, serta untuk memimpin pasukan penyerbuan di malam hari. Karena itu ninja memperoleh latiham khusus. Ninja tetap aktif sampai Zaman Edo (1600-1868), dimana akhirnya kekuasaan dibenahi oleh pemerintah di Zaman Edo.
 Dataran Iga, yang dilingkupi pegunungan terpencil, memiliki desa-desa yang khusus melatih ninja.Kemunculan ninja pada tahun 522 berhubungan erat dengan masuknya seni nonuse ke Jepang. Seni nonuse inilah yang membuka jalan bagi lahirnya ninja.
Seni nonuse atau yang biasa disebut seni bertindak diam-diam adalah suatu praktik keagamaan yang dilakukan oleh para pendeta yang pada saat itu bertugas memberikan info kepada orang-orang di pemerintahan. Sekitar tahun 645, pendeta-pendeta tersebut menyempurnakan kemampuan bela diri dan mulai menggunakan pengetahuan mereka tentang nonuse untuk melindungi diri dari intimidasi pemerintah pusat.
Pada tahun 794-1192, kehidupan masyarakat Jepang mulai berkembang dan melahirkan kelas-kelas baru berdasarkan kekayaan. Keluarga kelas ini saling bertarung satu sama lain dalam usahanya menggulingkan kekaisaran. Kebutuhan keluarga akan pembunuh dan mata-mata semakin meningkat untuk memperebutkan kekuasaan. Karena itu permintaan akan para praktisi nonuse semakin meningkat. Inilah awal kelahiran ninja. Pada abad ke-16 ninja sudah dikenal dan eksis sebagai suatu keluarga atau klan di kota Iga atau Koga. Ninja pada saat itu merupakan profesi yang berhubungan erat dengan intelijen tingkat tinggi dalam pemerintah feodal para raja di jepang. Berdasarkan hal itu, masing-masing klan memiliki tradisi mengajarkan ilmu beladiri secara rahasia dalam keluarganya saja. Ilmu beladiri yang kemudian dikenal dengan nama ninjutsu. Dalah ilmu yang diwariskan dari leluhur mereka dan atas hasil penyempurnaan seni berperang selama puluhan generasi. Menurut para ahli sejarah hal itu telah berlangsung selama lebih dari 4 abad. Ilmu itu meliputi filsafat FUDOSHIN, spionase, taktik perang komando, tenaga dalam, tenaga supranatural, dan berbagai jenis bela diri lain yang tumbuh dan berkembang menurut zaman.
Namun ada sebuah catatan sejarah yang mengatakan bahwa sekitar abad ke-9 terjadi eksodus dari Cina ke Jepang. Hal ini terjadi karena runtuhnya dinasti Tang dan adanya pergolakan politik. Sehingga banyak pengungsi yang mencari perlindungan ke jepang.sebagian dari mereka adalah jendral besar, prajurit dan biksu. Mereka menetap di provinsi Iga, di tengah pulau Honshu. Jendral tersebut antara lain Cho Gyokko, Ikai Cho Busho membawa pengetahuan mereka dan membaur dengan kebudayaan setempat. Strategi militer, filsafat kepercayaan, konsep kebudayaan, ilmu pengobatan tradisional, dan falsafah tradisional. Semuanya menyatu dengan kebiasaan setempat yang akhirnya membentuk ilmu yang bernama ninjutsu.

di ambil dari 
 http://phoenixryuindonesia.blogspot.com