Friday, June 17, 2016

MINDSET PENYEMBUHAN PENYAKIT

Salam SEHAT, 

Kami sedang antri periksa kesehatan. Dokter yang kami kunjungi ini termasuk dokter sepuh –berusia sekitar tujuh puluhan- spesialis penyakit “Silakan duduk,” sambut dr.Paulus. Aku duduk di depan meja kerjanya, mengamati pria sepuh berkacamata ini yang sedang sibuk menulis identitasku di kartu pasien. “Apa yang dirasakan, Mas?” Aku pun bercerita tentang apa yang kualami sejak 2013 hingga saat ini. Mulai dari awal merasakan sakit maag, peristiwa-peristiwa kram perut, ambruk berkali-kali, gejala dan vonis tipes, pengalaman opnam dan endoskopi, derita GERD, hingga tentang radang duodenum dan praktek tata pola makan Food Combining yang kulakoni. “Kalau kram perutnya sudah enggak pernah lagi, Pak,” ungkapku, “Tapi sensasi panas di dada ini masih kerasa, panik juga cemas, mules, mual. Kalau telat makan, maag saya kambuh. Apalagi setelah beberapa bulan tata pola makan saya amburadul lagi.” “Tapi buat puasa kuat ya?” “Kuat, Pak.” “Orang kalau kuat puasa, harusnya nggak bisa kena maag!” Aku terbengong, menunggu penjelasan. “Asam lambung itu,” terang Pak Paulus, “Diaktifkan oleh instruksi otak kita. Kalau otak kita bisa mengendalikan persepsi, maka asam lambung itu akan nurut sendiri. Dan itu sudah bisa dilakukan oleh orang-orang puasa.” “Maksudnya, Pak?” “Orang puasa ‘kan malamnya wajib niat to?” “Njih, Pak.” “Nah, niat itulah yang kemudian menjadi kontrol otak atas asam lambung. Ketika situ sudah bertekad kuat besok mau puasa, besok nggak makan sejak subuh sampai maghrib, itu membuat otak menginstruksikan kepada fisik biar kuat, asam lambung pun terkendali. Ya kalau sensasi lapar memang ada, namanya juga puasa. Tapi asam lambung tidak akan naik, apalagi sampai parah. Itu syaratnya kalau situ memang malamnya sudah niat mantap. Kalau cuma di mulut bilang mau puasa tapi hatinya nggak mantap, ya tetap nggak kuat. Makanya niat itu jadi kewajiban, ‘kan?” “Iya, ya, Pak,” aku manggut-manggut nyengir. “Manusia itu, Mas, secara ilmiah memang punya tenaga cadangan hingga enam puluh hari. Maksudnya, kalau orang sehat itu bisa tetap bertahan hidup tanpa makan dalam keadaan sadar selama dua bulan. Misalnya puasa dan buka-sahurnya cuma minum sedikit. Itu kuat. Asalkan tekadnya juga kuat.” Aku melongo lagi. “Makanya, dahulu raja-raja Jawa itu sebelum jadi raja, mereka tirakat dulu. Misalnya puasa empat puluh hari. Bukanya cuma minum air kali. Itu jaman dulu ya, waktu kalinya masih bersih. Hahaha,” ia tertawa ringan, menambah rona wajahnya yang memang kelihatan masih segar meski keriput penanda usia. Kemudian ia mengambil sejilid buku di rak sebelah kanan meja kerjanya. Ya, ruang praktek dokter dengan rak buku. Keren sekali. Aku lupa judul dan penulisnya. Ia langsung membuka satu halaman dan menunjukiku beberapa baris kalimat yang sudah distabilo hijau. “Coba baca, Mas: ‘mengatakan adalah mengundang, memikirkan adalah mengundang, meyakini adalah mengundang’. Jadi kalau situ memikirkan; ‘ah, kalau telat makan nanti asam lambung saya naik’, apalagi berulang-ulang mengatakan dan meyakininya, ya situ berarti mengundang penyakit itu. Maka benar kata orang-orang itu bahwa perkataan bisa jadi doa. Nabi Musa itu, kalau kerasa sakit, langsung mensugesti diri; ah sembuh. Ya sembuh. Orang-orang debus itu nggak merasa sakit saat diiris-iris kan karena sudah bisa mengendalikan pikirannya. Einstein yang nemuin bom atom itu konon cuma lima persen pendayagunaan otaknya. Jadi potensi otak itu luar biasa,” papar Pak Paulus. “Jadi kalau jadwal makan sembarangan berarti sebenarnya nggak apa-apa ya, Pak?” “Nah, itu lain lagi. Makan harus tetap teratur, ajeg, konsisten. Itu agar menjaga aktivitas asam lambung juga. Misalnya situ makan tiga kali sehari, maka jarak antara sarapan dan makan siang buatla sama dengan jarak antara makan siang dan makan malam. Misalnya, sarapan jam enam pagi, makan siang jam dua belas siang, makan malam jam enam petang. Kalau siang, misalnya jam sebelas situ rasanya nggak sempat makan siang jam dua belas, ya niatkan saja puasa sampai sore. Jangan mengundur makan siang ke jam dua misalnya, ganti aja dengan minum air putih yang banyak. Dengan pola yang teratur, maka organ di dalam tubuh pun kerjanya teratur. Nah, pola teratur itu sudah bisa dilakukan oleh orang-orang yang puasa dengan waktu buka dan sahurnya.” “Ooo, gitu ya Pak,” sahutku baru menyadari. “Tapi ya itu tadi. Yang lebih penting adalah pikiran situ, yakin nggak apa-apa, yakin sembuh. Allah sudah menciptakan tubu kita untuk menyembuhkan diri sendiri, ada mekanismenya, ada enzim yang bekerja di dalam tubuh untuk penyembuhan diri. Dan itu bisa diaktifkan secara optimal kalau pikiran kita optimis. Kalau situ cemas, takut, kuatir, justru imunitas situ turun dan rentan sakit juga.” Pak Paulus mengambil beberapa jilid buku lagi, tentang ‘enzim kebahagiaan’ endorphin, tentang enzim peremajaan, dan beberapa tema psiko-medis lain tulisan dokter-dokter Jepang dan Mesir. “Situ juga berkali-kali divonis tipes ya?” “Iya, Pak.” “Itu salah kaprah.” “Maksudnya?” “Sekali orang kena bakteri thypoid penyebab tipes, maka antibodi terhadap bakteri itu bisa bertahan dua tahun. Sehingga selama dua tahun itu mestinya orang tersebut nggak kena tipes lagi. Bagi orang yang fisiknya kuat, bisa sampai lima tahun. Walaupun memang dalam tes widal hasilnya positif, tapi itu bukan tipes. Jadi selama ini banyak yang salah kaprah, setahun sampai tipes dua kali, apalagi sampai opnam. Itu biar rumah sakitnya penuh saja. Kemungkinan hanya demam biasa.” “Haah?” “Iya Mas. Kalaupun tipes, nggak perlu dirawat di rumah sakit sebenarnya. Asalkan dia masih bisa minum, cukup istirahat di rumah dan minum obat tipes. Sembuh sudah. Dulu, pernah di RS Sardjito, saya anjurkan agar belasan pasien tipes yang nggak mampu, nggak punya asuransi, rawat jalan saja. Yang penting tetep konsumsi obat dari saya, minum yang banyak, dan tiap hari harus cek ke rumah sakit, biayanya gratis. Mereka nurut. Itu dalam waktu maksimal empat hari sudah pada sembuh. Sedangkan pasien yang dirawat inap, minimal baru bisa pulang setelah satu minggu, itupun masih lemas.” “Tapi ‘kan pasien harus bedrest, Pak?” “Ya ‘kan bisa di rumah.” “Tapi kalau nggak pakai infus ‘kan lemes terus Pak?” “Nah situ nggak yakin sih. Saya yakinkan pasien bahwa mereka bisa sembuh. Asalkan mau nurut dan berusaha seperti yang saya sarankan itu. Lagi-lagi saya bilang, kekuatan keyakinan itu luar biasa lho, Mas.” Dahiku berkernyit. Menunggu lanjutan cerita. “Dulu,” lanjut Pak Paulus, “Ada seorang wanita kena kanker payudara. Sebelah kanannya diangkat, dioperasi di Sardjito. Nggak lama, ternyata payudara kirinya kena juga. Karena nggak segera lapor dan dapat penanganan, kankernya merembet ke paru-paru dan jantung. Medis di Sardjito angkat tangan. Dia divonis punya harapan hidup maksimal hanya empat bulan.” “Lalu, Pak?” tanyaku antusias. “Lalu dia kesini ketemu saya. Bukan minta obat atau apa. Dia cuma nanya; ‘Pak Paulus, saya sudah divonis maksimal empat bulan. Kira-kira bisa nggak kalau diundur jadi enam bulan?’ Saya heran saat itu, saya tanya kenapa. Dia bilang bahwa enam bulan lagi anak bungsunya mau nikah, jadi pengen ‘menangi’ momen itu.” “Waah.. Lalu, Pak?” “Ya saya jelaskan apa adanya. Bahwa vonis medis itu nggak seratus persen, walaupun prosentasenya sampai sembilan puluh sembilan persen, tetap masih ada satu persen berupa kepasrahan kepada Tuhan yang bisa mengalahkan vonis medis sekalipun. Maka saya bilang; sudah Bu, situ nggak usah mikir bakal mati empat bulan lagi. Justru situ harus siap mental, bahwa hari ini atau besok situ siap mati. Kapanpun mati, siap! Begitu, situ pasrah kepada Tuhan, siap menghadap Tuhan kapanpun. Tapi harus tetap berusaha bertahan hidup.” Aku tambah melongo. Tak menyangka ada nasehat macam itu. Kukira ia akan memotivasi si ibu agar semangat untuk sembuh, malah disuruh siap mati kapanpun. O iya, mules mual dan berbagai sensasi ketidaknyamanansudah tak kurasakan lagi. “Dia mau nurut. Untuk menyiapkan mental siap mati kapanpun itu dia butuh waktu satu bulan. Dia bilang sudah mantap, pasrah kepada Tuhan bahwa dia siap. Dia nggak lagi mengkhawatirkan penyakit itu, sudah sangat enjoy. Nah, saat itu saya cuma kasih satu macam obat. Itupun hanya obat anti mual biar dia tetap bisa makan dan punya energi untuk melawan kankernya. Setelah hampir empat bulan, dia check-up lagi ke Sardjito dan di sana dokter yang meriksa geleng-geleng. Kankernya sudah berangsur-angsur hilang!” “Orangnya masih hidup, Pak?” “Masih. Dan itu kejadian empat belas tahun lalu.” “Wah, wah, wah..” “Kejadian itu juga yang menjadikan saya yakin ketika operasi jantung dulu.” “Lhoh, njenengan pernah Pak?” “Iya. Dulu saya operasi bedah jantung di Jakarta. Pembuluhnya sudah rusak. Saya ditawari pasang ring. Saya nggak mau. Akhirnya diambillah pembuluh dari kaki untuk dipasang di jantung. Saat itu saya yakin betul sembuh cepat. Maka dalam waktu empat hari pasca operasi, saya sudah balik ke Jogja, bahkan dari bandara ke sini saya nyetir sendiri. Padahal umumnya minimal dua minggu baru bisa pulang. Orang yang masuk operasi yang sama bareng saya baru bisa pulang setelah dua bulan.” Pak Paulus mengisahkan pengalamannya ini dengan mata berbinar. Semangatnya meluap-luap hingga menular ke pasiennya ini. Jujur saja, penjelasan yang ia paparkan meningkatkan harapan sembuhku dengan begitu drastis. Persis ketika dua tahun lalu pada saat ngobrol dengan Bu Anung tentang pola makan dan kesehatan. Semangat menjadi kembali segar! “Tapi ya nggak cuma pasrah terus nggak mau usaha. Saya juga punya kenalan dokter,” lanjutnya, “Dulu tugas di Bethesda, aslinya Jakarta, lalu pindah mukim di Tennessee, Amerika. Di sana dia kena kanker stadium empat. Setelah divonis mati dua bulan lagi, dia akhirnya pasrah dan pasang mental siap mati kapanpun. Hingga suatu hari dia jalan-jalan ke perpustakaan, dia baca-baca buku tentang Afrika. Lalu muncul rasa penasaran, kira-kira gimana kasus kanker di Afrika. Dia cari-cari referensi tentang itu, nggak ketemu. Akhirnya dia hubungi kawannya, seorang dokter di Afrika Tengah. Kawannya itu nggak bisa jawab. Lalu dihubungkan langsung ke kementerian kesehatan sana. Dari kementerian, dia dapat jawaban mengherankan, bahwa di sana nggak ada kasus kanker. Nah dia pun kaget, tambah penasaran.” Pak Paulus jeda sejenak. Aku masih menatapnya penuh penasaran juga, “Lanjut, Pak,” benakku. “Beberapa hari kemudian dia berangkat ke Afrika Tengah. Di sana dia meneliti kebiasaan hidup orang-orang pribumi. Apa yang dia temukan? Orang-orang di sana makannya sangat sehat. Yaitu sayur-sayuran mentah, dilalap, nggak dimasak kayak kita. Sepiring porsi makan itu tiga perempatnya sayuran, sisanya yang seperempat untuk menu karbohidrat. Selain itu, sayur yang dimakan ditanam dengan media yang organik. Pupuknya organik pake kotoran hewan dan sisa-sisa tumbuhan. Jadi ya betul-betul sehat. Nggak kayak kita, sudah pupuknya pakai yang berbahaya, eh pakai dimasak pula. Serba salah kita. Bahkan beras merah dan hitam yang sehat-sehat itu, kita nggak mau makan. Malah kita jadikan pakan burung, ya jadinya burung itu yang sehat, kitanya sakit-sakitan.” Keterangan ini mengingatkanku pada obrolan dengan Bu Anung tentang sayur mayur, menu makanan serasi, hingga beras sehat. Pas sekali. “Nah dia yang awalnya hanya ingin tahu, akhirnya ikut-ikutan. Dia tinggal di sana selama tiga mingguan dan menalani pola makan seperti orang-orang Afrika itu.” “Hasilnya, Pak?” “Setelah tiga minggu, dia kembali ke Tennessee. Dia mulai menanam sayur mayur di lahan sempit dengan cara alami. Lalu beberapa bulan kemudian dia check-up medis lagi untuk periksa kankernya,” “Sembuh, Pak?” “Ya! Pemeriksaan menunjukkan kankernya hilang. Kondisi fisiknya berangsur-angsur membaik. Ini buki bahwa keyakinan yang kuat, kepasrahan kepada Tuhan, itu energi yang luar biasa. Apalagi ditambah dengan usaha yang logis dan sesuai dengan fitrah tubuh. Makanya situ nggak usah cemas, nggak usah takut..” Takjub, tentu saja. Pada momen ini Pak Paulus menghujaniku dengan pengalaman-pengalamannya di dunia kedokteran, tentang kisah-kisah para pasien yang punya optimisme dan pasien yang pesimis. Aku jadi teringat kisah serupa yang menimpa alumni Madrasah Huffadh Al-Munawwir, pesantren tempatku belajar saat ini. Singkatnya, santri ini mengidap tumor ganas yang bisa berpindah-pindah benjolannya. Ia divonis dokter hanya mampu bertahan hidup dua bulan. Terkejut atas vonis ini, ia misuh-misuh di depan dokter saat itu. Namun pada akhirnya ia mampu menerima kenyataan itu. Ia pun bertekad menyongsong maut dengan percaya diri dan ibadah. Ia sowan ke Romo Kiai, menyampaikan maksudnya itu. Kemudian oleh Romo Kiai, santri ini diijazahi (diberi rekomendasi amalan) Riyadhoh Qur’an, yakni amalan membaca Al-Quran tanpa henti selama empat puluh hari penuh, kecuali untuk memenuhi hajat dan kewajiban primer. Riyadhoh pun dimulai. Ia lalui hari-hari dengan membaca Al-Quran tanpa henti. Persis di pojokan aula Madrasah Huffadh yang sekarang. Karena merasa begitu dingin, ia jadikan karpet sebagai selimut. Hari ke tiga puluh, ia sering muntah-muntah, keringatnya pun sudah begitu bau. Bacin, mirip bangkai tikus,kenang narasumber yang menceritakan kisah ini padaku. Hari ke tiga puluh lima, tubuhnya sudah nampak lebih segar, dan ajaibnya; benjolan tumornya sudah hilang. Selepas rampung riyadhoh empat puluh hari itu, dia kembali periksa ke rumah sakit di mana ia divonis mati. Pihak rumah sakit pun heran. Penyakit pemuda itu sudah hilang, bersih, dan menunjukkan kondisi vital yang sangat sehat! Aku pribadi sangat percaya bahwa gelombang yang diciptakan oleh ritual ibadah bisa mewujudkan energi positif bagi fisik. Khususnya energi penyembuhan bagi mereka yang sakit. Memang tidak mudah untuk sampai ke frekuensi itu, namun harus sering dilatih. Hal ini diiyakan oleh Pak Paulus. “Untuk melatih pikiran biar bisa tenang itu cukup dengan pernapasan. Situ tarik napas lewat hidung dalam-dalam selama lima detik, kemudian tahan selama tiga detik. Lalu hembuskan lewat mulut sampai tuntas. Lakukan tujuh kali setiap sebelum Shubuh dan sebelum Maghrib. Itu sangat efektif. Kalau orang pencak, ditahannya bisa sampai tuuh detik. Tapi kalau untuk kesehatan ya cukup tiga detik saja.” Nah, anjuran yang ini sudah kupraktekkan sejak lama. Meskipun dengan tata laksana yang sedikit berbeda. Terutama untuk mengatasi insomnia. Memang ampuh. Yakni metode empat-tujuh-delapan. Ketika merasa susah tidur alias insomnia, itu pengaruh pikiran yang masih terganggu berbagai hal. Maka pikiran perlu ditenangkan, yakni dengan pernapasan. Tak perlu obat, bius, atau sejenisnya, murah meriah. Pertama, tarik napas lewat hidung sampai detik ke empat, lalu tahan sampai detik ke tujuh, lalu hembuskan lewat mulut pada detik ke delapan. Ulangi sebanyak empat sampai lima kali. Memang iya mata kita tidak langsung terpejam ngantuk, tapi pikiran menadi rileks dan beberapa menit kemudian tanpa terasa kita sudah terlelap. Awalnya aku juga agak ragu, tapi begitu kucoba, ternyata memang ampuh. Bahkan bagi yang mengalami insomnia sebab rindu akut sekalipun. “Gelombang yang dikeluarkan oleh otak itu punya energi sendiri, dan itu bergantung dari seberapa yakin tekad kita dan seberapa kuat konsentrasi kita,” terangnya, “Jadi kalau situ sholat dua menit saja dengan khusyuk, itu sinyalnya lebih bagus ketimbang situ sholat sejam tapi pikiran situ kemana-mana, hehehe.” Duh, terang saja aku tersindir di kalimat ini. “Termasuk dalam hal ini adalah keampuhan sholat malam. Sholat tahajud. Itu ketika kamu baru bangun di akhir malam, gelombang otak itu pada frekuensi Alpha. Jauh lebih kuat daripada gelombang Beta yang teradi pada waktu Isya atau Shubuh. Jadi ya logis saja kalau doa di saat tahajud itu begitu cepat ‘naik’ dan terkabul. Apa yang diminta, itulah yang diundang. Ketika tekad situ begitu kuat, ditambah lagi gelombang otak yang lagi kuat-kuatnya, maka sangat besar potensi terwujud doa-doa situ.” Tak kusangka Pak Paulus bakal menyinggung perihal sholat segala. Aku pun ternganga. Ia menunjukkan sampul buku tentang ‘enzim panjang umur’. “Tubuh kita ini, Mas, diberi kemampuan oleh Allah untuk meregenerasi sel-sel yang rusak dengan bantuan enzim tertentu, populer disebut dengan enzim panjang umur. Secara berkala sel-sel baru terbentuk, dan yang lama dibuang. Ketika pikiran kita positif untuk sembuh, maka yang dibuang pun sel-sel yang terkena penyakit. Menurut penelitian, enzim ini bisa bekerja dengan baik bagi mereka yang sering merasakan lapar dalam tiga sampai empat hari sekali.” Pak Paulus menatapku, seakan mengharapkan agar aku menyimpulkan sendiri. “Puasa?” “Ya!” “Senin-Kamis?” “Tepat sekali! Ketika puasa itu regenerasi sel berlangsung dengan optimal. Makanya orang puasa sebulan itu juga harusnya bisa jadi detoksifikasi yang ampuh terhadap berbagai penyakit.” Lagi-lagi,aku manggut-manggut. Tak asing dengan teori ini. “Pokoknya situ harus merangsang tubuh agar bisa menyembuhkan diri sendiri. Jangan ketergantungan dengan obat. Suplemen yang nggak perlu-perlu amat,nggak usahlah. Minum yang banyak, sehari dua liter, bisa lebih kalau situ banyak berkeringat, ya tergantung kebutuhan. Tertawalah yang lepas, bergembira, nonton film lucu tiap hari juga bisa merangsang produksi endorphin, hormon kebahagiaan. Itu akan sangat mempercepat kesembuhan. Penyakit apapun itu! Situ punya radang usus kalau cemas dan khawatir terus ya susah sembuhnya. Termasuk asam lambung yang sering kerasa panas di dada itu.” Terus kusimak baik-baik anjurannya sambil mengelus perut yang tak lagi terasa begah. Aneh. “Tentu saja seperti yang saya sarankan, situ harus teratur makan, biar asam lambung bisa teratur juga. Bangun tidur minum air hangat dua gelas sebelum diasupi yang lain. Ini saya kasih vitamin saja buat situ, sehari minum satu saja. Tapi ingat, yang paling utama adalah kemantapan hati, yakin, bahwa situ nggak apa-apa. Sembuh!” Begitulah. Perkiraanku yang tadinya bakal disangoni berbagai macam jenis obat pun keliru. Hanya dua puluh rangkai kaplet vitamin biasa, Obivit, suplemen makanan yang tak ada kaitannya dengan asam lambung apalagi GERD. Hampir satu jam kami ngobrol di ruang praktek itu, tentu saja ini pengalaman yang tak biasa. Seperti konsultasi dokter pribadi saja rasanya. Padahal saat keluar, kulihat masih ada dua pasien lagi yang kelihatannya sudah begitu jengah menunggu. “Yang penting pikiran situ dikendalikan, tenang dan berbahagia saja ya,” ucap Pak Paulus sambil menyalamiku ketika hendak pamit. Dan jujur saja, aku pulang dalam keadaan bugar, sama sekali tak merasa mual, mules, dan saudara-saudaranya. Terima kasih Pak Paulus. Kadipiro Yogyakarta, 2016 copy dari sebelah

Wednesday, May 18, 2016

5 Most Beautiful Criminals In The World


 


Lindsey Evans - She was arrested in 2008 on the charge of drug possession.




 



Lorena Tavera - She was arrested for allegedly stealing a shirt from a department store.



 

Stephanie Beaudoin - This 21 year old nursing student from Canada has 114 counts, including charges for stealing and illegally owning nine firearms. 





 

Angela Coates - She has been arrested for disorderly conduct. 


 

Meagan McCullough - She was arrested for reckless driving in July 2010,  

MEJLIS TARJIH MUHAMMADIYAH - Seputar Perbedaan Amaliyah Muhammadiyah dan NU

KH. Ahmad Dahlan sebelum menunaikan ibadah haji ke tanah suci bernama Muhammad Darwis. Seusai menunaikan ibadah haji, nama beliau diganti dengan Ahmad Dahlan oleh salah satu gurunya, Sayyid Abubakar Syatha Ad Dimyathi, ulama besar yang bermadzhab Syafi’i. Jauh sebelum menunaikan ibadah haji, dan belajar mendalami ilmu agama, KH. Ahmad Dahlan telah belajar agama kepada Asy Syaikh KH. Shaleh Darat Semarang. KH. Shaleh Darat adalah ulama besar yang telah bertahun² belajar dan mengajar di Masjidil Haram Makkah. Di pesantren milik KH. Murtadha (sang mertua), KH. Shaleh Darat mengajar santri² nya ilmu agama, seperti kitab Al Hikam, Al Munjiyyat karya beliau sendiri, Lathaif Ath Thaharah, serta beragam ilmu agama lainnya. Di pesantren ini, Mohammad Darwis ditemukan dengan Hasyim Asy’ari. Keduanya sama² mendalami ilmu agama dari ulama besar Syaikh Shaleh Darat. Waktu itu, Muhammad Darwis berusia 16 tahun, sementara Hasyim Asy’ari berusia 14 tahun. Keduanya tinggal satu kamar di pesantren yang dipimpin oleh Syaikh Shaleh Darat Semarang tersebut. 

Sekitar 2 tahunan kedua santri tersebut hidup bersama di kamar yang sama, pesantren yang sama dan guru yang sama. Dalam keseharian, Muhammad Darwis memanggil Hasyim Asy’ari dengan panggilan “Adik Hasyim”. Sementara Mbah Hasyim Asy’ari memanggil Muhammad Darwis dengan panggilan “Mas atau Kang Darwis”. Selepas nyantri di pesantren Syaikh Shaleh Darat, keduanya mendalami ilmu agama di Makkah, dimana sang guru pernah menimba ilmu bertahun² lamanya di Tanah Suci itu. Tentu saja, sang guru sudah membekali akidah dan ilmu fikih yang cukup. Sekaligus telah memberikan referensi ulama² mana yang harus didatangi dan diserap ilmunya selama di Makkah. Puluhan ulama² Makkah waktu itu berdarah Nusantara. Praktek ibadah waktu itu seperti wiridan, tahlilan, manaqiban, maulidan dan lainnya sudah menjadi bagian dari kehidupan ulama² Nusantara. Hampir semua karya-karya Syaikh Muhammad Yasin al-Faddani, Syaikh Muhammad Mahfudz at-Turmusi dan Syaikh Khaathib As Sambasi menuliskan tentang madzhab Syafi’i dan Asy’ariyyah sebagai akidahnya. Tentu saja, itu pula yang diajarkan kepada murid² nya, seperti KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah, Syaikh Abdul Qadir Mandailing dan selainnya. 

Seusai pulang dari Makkah, masing². mengamalkan ilmu yang telah diperoleh dari guru² nya di Makkah. Muhammad Darwis yang telah diubah namanya menjadi Ahmad Dahlan mendirikan persarikatan Muhammadiyyah. Sedangkan Hasyim Asy’ari mendirikan NU (Nahdlatul Ulama). Begitulah persaudaraan sejati yang dibangun sejak menjadi santri Syaikh Shaleh Darat hingga menjadi santri di Tanah Suci Makkah. Keduanya juga membuktikan, kalau dirinya tidak ada perbedaan di dalam urusan akidah dan madzhabnya. Saat itu di Makkah memang mayoritas bermadzhab Syafi’i dan berakidahkan Asy’ari. Wajar, jika praktek ibadah sehari-hari KH. Ahmad Dahlan persis dengan guru-gurunya di Tanah Suci. 

Seperti yang sudah dikutipkan di awal tulisan, semisal shalat Shubuh KH. Ahmad Dahan tetap menggunakan Qunut, dan tidak pernah berpendapat bahwa Qunut sholat subuh Nabi Muhammad Saw adalah Qunut Nazilah. Karena beliau sangat memahami ilmu hadits dan juga memahami ilmu fikih. Begitupula Tarawihnya, KH. Ahmad Dahlan praktek shalat Tarawihnya 20 rakaat. Penduduk Makkah sejak berabad² lamanya, sejak masa Khalifah Umar bin Khattab Ra., telah menjalankan Tarawih 20 rakaat dengan 3 witir, sehingga sekarang. Jumlah ini telah disepakati oleh sahabat-sahabat Nabi Saw. Bagi penduduk Makkah, Tarawih 20 rakaat merupakan ijma’ (konsensus kesepakatan) para sahabat Nabi Saw. Sedangkan penduduk Madinah melaksanakan Tarawih dengan 36 rakaat. Penduduk Makkah setiap pelaksanaan Tarawih 2 kali salaman, semua beristirahat. Pada waktu istirahat, mereka mengisi dengan thawaf sunnah. Nyaris pelaksanaan shalat Tarawih hingga malam, bahkan menjelang Shubuh. Di sela² Tarawih itulah keuntungan penduduk Makkah, karena bisa menambah pahala ibadah dengan thawaf. Maka bagi penduduk Madinah untuk mengimbangi pahala dengan yang di Makkah, mereka melaksanakan Tarawih dengan jumlah lebih banyak. 

Jadi, baik KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari tidak pernah ada perbedaan di dalam pelaksanaan ubudiyah. Ketua PP. Muhammdiyah, Yunahar Ilyas pernah menuturkan: “KH. Ahmad Dahlan pada masa hidupnya banyak menganut fiqh madzhab Syafi’i, termasuk mengamalkan Qunut dalam shalat Shubuh dan shalat Tarawih 23 rakaat. Namun, setelah berdirinya Majelis Tarjih pada masa kepemimpinan KH. Mas Manshur, terjadilah revisi² , termasuk keluarnya Putusan Tarjih yang menuntunkan tidak dipraktekkannya doa Qunut di dalam shalat Shubuh dan jumlah rakaat shalat Tarawih yang sebelas rakaat.” Saat beliau berdua masih hidup, tata ibadah yang diamalkan di masyarakat umumnya sama meski ada perbedaan yang sama sekali tidak mengganggu. 

Contoh kesamaan praktek ibadah kala itu antara lain: 

1. Niat shalat memakai bacaan lafadz: “Ushalli Fardha...” (halaman 25). 

ringkasan scand an yg di ambil dari Kitab ”Fiqih Muhammadiyyah”, penerbit Muhammadiyyah Bagian Taman Poestaka Jogjakarta, jilid III, diterbitkan tahun 1343 H/1925 M, dimana hal ini membuktikan bahwa amaliah kedua ulama besar di atas tidak berbeda:

. 

2. Setelah takbir membaca: “Allahu Akbar Kabiran Walhamdulillahi Katsira...” (halaman 25). . 

3. Membaca surat al-Fatihah memakai bacaan: “Bismillahirrahmanirrahim” (halaman 26). . 

4. Setiap shalat Shubuh membaca doa Qunut (halaman 27). . 

5. Membaca shalawat dengan memakai kata: “Sayyidina”, baik di luar maupun dalam shalat (halaman 29). . 

6. Setelah shalat disunnahkan membaca wiridan: “Istighfar, Allahumma Antassalam, Subhanallah 33x, Alhamdulillah 33x, Allahu Akbar 33x” (halaman 40-42). . 

7. Shalat Tarawih 20 rakaat, tiap 2 rakaat 1 salam (halaman 49-50). . 

8. Tentang shalat & khutbah Jum’at juga sama dengan amaliah NU (halaman 57-60). 

 9. Dan yang paling monumental adalah itsbat hilal, sama-sama pakai rukyah.  

Yang terakhir inilah yang menarik direnungkan, bukan dihakimi mana yang benar dan mana yang salah. Semua amaliah tersebut di atas berjalan puluhan tahun dengan damai dan nikmat. Semuanya tertulis dalam kitab Fiqih Muhammadiyah yang terdiri dari 3 jilid, yang diterbitkan oleh: Muhammadiyah Bagian Taman Pustaka Jogjakarta, tahun 1343-an H. Namun ketika Muhammadiyah membentuk Majlis Tarjih, di sinilah mulai ada penataan praktek ibadah yang rupanya “harus beda” dengan apa yang sudah mapan dan digariskan oleh pendahulunya. Otomatis berbeda pula dengan pola ibadahnya kaum Nahdhiyyin. Perkara dalail (dalil-dalil), nanti difikir bareng dan dicari-carikan. Disinyalir, tampil beda itu lebih dipengaruhi politik ketimbang karena keshahihan hujjah atau afdhaliah ibadah. 

Untuk ini, ada sebuah tesis yang meneliti hadits-hadits yang dijadikan rujukan Majlis Tarjih Muhammadiyah dalam menetapkan hukum atau pola ibadah yang dipilih. Setelah uji takhrij berstandar mutawassith, kesimpulannya adalah: bahwa mayoritas hadits-hadits yang dipakai hujjah Majlis Tarjih adalah dha’if. Itu belum dinaikkan pakai uji takhrij berstandar mutasyaddid versi Ibn Ma’in. Hal mana, menurut mayoritas al-Muhadditsin, hadis dha’if tidak boleh dijadikan hujjah hukum, tapi ditoleransi sebagai dasar amaliah berfadhilah atau fadhail al-a’mal. Tahun 1995an, Penulis masih sempat membaca tesis itu di perpustakaan Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Soal dalil yang dicari-carikan kemudian tentu berefek pada perubahan praktek ibadah di masyarakat, kalau tidak disebut sebagai membingungkan. Contoh, ketika Majlis Tarjih memutuskan jumlah rakaat shalat Tarawih 8 plus 3 witir, bagaimana prakteknya? Awal-awal instruksi itu, pakai komposisi: 4, 4, 3. Empat rakaat satu salam, empat rakaat satu salam. Ini untuk Tarawih. Dan tiga rakaat untuk Witir. Model Witir tiga sekaligus ini versi madzhab Hanafi. Sementara wong NU pakai dua-dua semua dan ditutup satu Witir. Ini versi asy-Syafi’i. Tapi pada tahun 1987, praktek shalat Tarawih empat-empat itu diubah menjadi dua-dua. Hal tersebut atas seruan KH. Shidiq Abbas Jombang ketika halaqah di Masjid al-Falah Surabaya. Beliau tampilkan hadits dari Shahih Muslim yang meriwayatkan begitu. Karena, kualitas hadits Muslim lebih shahih ketimbang hadits empat-empat, maka semua peserta tunduk. Akibatnya, tahun itu ada selebaran keputusan Majlis Tarjih yang diedarkan ke semua masjid dan mushalla di lingkungan Muhammadiyah, bahwa praktik shalat Tarawih pakai komposisi dua-dua, hingga sekarang, meski sebagian masih ada yang tetap bertahan pada empat-empat. Inilah fakta sejarah. 
Kini soal itsbat hilal pakai rukyah. Tolong, lapangkan dada sejenak, jangan emosi dan jangan dibantah kecuali ada bukti kuat. Semua ahli falak, apalagi dari Muhammadiyah pasti mengerti dan masih ingat bahwa Muhammadiyah dulu dalam penetapan hilal selalu pakai rukyah bahkan dengan derajat cukup tinggi. Hal itu berlangsung hingga era orde baru pimpinan Pak Harto. Karena orang-orang Muhammdiyah menguasai Departemen Agama, maka tetap bertahan pada rukyah derajat tinggi, tiga derajat ke atas dan sama sekali menolak hilal dua derajat. Dan inilah yang selalu dipakai pemerintah. Sementara ahli falak Nadhliyyin juga sama menggunakan rukyah tapi menerima dua derajat sebagai sudah bisa dirukyah. Dalil mereka sama, pakai hadits rukyah dan ikmal. Oleh karena itu, tahun 90-an, tiga kali berturut-turut orang NU lebaran duluan karena hilal dua derajat nyata-nyata sudah bisa dirukyah, sementara Pemerintah-Muhammadiyah tidak menerima karena standar yang dipakai adalah hilal tinggi dan harus ikmal atau istikmal. Ada lima titik atau lebih tim rukyah gabungan menyatakan hilal terukyah, tapi tidak diterima oleh Departemen Agama, meski pengadilan setempat sudah menyumpah dan melaporkan ke Jakarta. 
Itulah perbedaan standar derajat hilal antara Muhammadiyah dan NU. Masing-masing bertahan pada pendiriannya. Setelah pak Harto lengser dan Gus Dur menjadi presiden, orang-orang Muhammadiyah berpikir cerdas dan tidak mau dipermalukan di hadapan publiknya sendiri. Artinya, jika masih pakai standar hilal tinggi, sementara mereka tidak lagi menguasai pemeritahan, pastilah akan lebaran belakangan terus. 

Dan itu berarti lagi-lagi kalah start dan kalah cerdas. Maka segera mengubah mindset dan pola pikir soal itsbat hilal. Mereka tampil radikal dan meninggalkan cara rukyah berderajat tinggi. Tapi tak menerima hilal derajat, karena sama dengan NU. Lalu membuat metode “wujud al-hilal”. Artinya, pokoknya hilal menurut ilmu hisab atau astronomi sudah muncul di atas ufuk, seberapapun derajatnya, nol koma sekalipun, sudah dianggap hilal penuh atau tanggal satu. Maka tak butuh rukyah-rukyahan seperti dulu, apalagi tim rukyah yang diback up pemerintah. Hadits yang dulu dielu-elukan, ayat al-Quran berisikan seruan “taat kepada Allah, RasulNya dan Ulil Amri” dibuang dan alergi didengar. Lalu dicari-carikan dalil baru sesuai dengan selera. Populerkah metode “wujud al-hilal” dalam tradisi keilmuwan falak? Sama sekali tidak, baik ulama dulu maupun sekarang. Di sini, Muhammdiyah membuat beda lagi dengan NU. Kalau dulu, Muhammadiyah hilal harus derajat tinggi untuk bisa dirukyah, hal mana pasti melahirkan beda keputusan dengan NU, kini membuang derajat-derajatan secara total dan tak perlu rukyah-rukyahan. Menukik lebih tajam, yang penting hilal sudah muncul berapapun derajatnya. Sementara NU tetap pada standar rukyah, meski derajat dua atau kurang sedikit. Tentu saja beda lagi dengan NU. Maka, selamanya takkan bisa disatukan, karena sengaja harus tampil beda. Dan itu sah-sah saja. Dilihat dari fakta sejarah, pembaca bisa menilai sendiri sesungguhnya siapa yang sengaja membuat beda, sengaja tidak mau dipersatukan, siapa biang persoalan di kalangan umat? Menyikapi lebaran dua versi, warga Muhammadiyah pasti bisa tenang karena sudah biasa diombang-ambingkan dengan perubahan pemikiran pimpinannya. Persoalannya, apakah sikap, ulah atau komentar mereka bisa menenangkan orang lain? Perkara dalil nash atau logika, ilmu falak klasik atau neutik, rubu’ atau teropong modern sama-sama punya. Justeru, bila dalil-dalil itu dicari-cari belakangan dan dipaksakan, sungguh mudah sekali dipatahkan. Hebatnya, semua ilmuwan Muhammadiyah yang akademis dan katanya kritis-kritis itu bungkam dan tunduk semua kepada keputusan Majlis Tarjih. Tidak ada yang mengkritik, padahal kelemahan akademik pasti ada.

Wednesday, April 20, 2016

PENDAPATAN PARA BINTANG PORNO DUNIA

Audrey Bitoni
aktris film Amerika 29 tahun ini memiliki kekayaan bersih lebih dari $ 1,8 juta. brunette memiliki tubuh curvy yang membuat orang di seluruh dunia sudah gila.
Audrey Bitoni

DAISY MARIE
Pada $ 1.900.000, bintang Panas Amerika dan penari Daisy Marie juga di antara bintang-bintang dewasa bayaran tertinggi. Dia memulai karir film dewasa nya pada tahun 2002 dan tidak ada melihat ke belakang.
Daisy Marie

Maria Ozawa
Seorang aktris Amerika 30 tahun dan model dengan laba bersih sebesar $ 2 juta, Ozawa lahir Jepang. Dia memulai karirnya pada tahun 2005 setelah seorang teman yang juga seorang bintang dewasa
Maria Ozawa

Jayden James
adalah seorang aktris porno dari California, AS Aktris telah menerima lebih dari $ 2 juta pada menampilkan lebih dari 100 video dewasa
Jaiden James

Belladona
Seorang mantan aktris dewasa, Belladonna adalah sutradara film Amerika 34 tahun, produser dan aktor. Dia memulai karirnya di umur18 dan terjaring $ 3.000.000 sebagai bintang dewasa. Dia adalah pemilik Belladonna Entertainment.
Belladona

Sasha Grey
Dia telah muncul di lebih dari 300 video dewasa dan memiliki laba bersih sebesar $ 3 juta. Aktris ini Amerika debutnya di Hollywood di The Girlfriend Experience pada tahun 2009. Dia juga seorang musisi
Sasha Grey

Gianna Michael
Bintang dewasa Amerika 32 tahun ini memiliki kekayaan bersih sebesar $ 4 juta. Dia memulai karir film dewasa nya pada tahun 2009 dan juga bagian dari film-film Hollywood seperti Piranha 3D dan Lihat: The Series.
Gianna Mickhael

Jenna Haze
Seorang mantan bintang dewasa, sutradara Amerika ini 33 tahun dan model memiliki laba bersih sebesar $ 6 juta. Dia memulai kariernya di industri film dewasa pada tahun 2001 dan menyatakan pensiun pada tahun 2012 dan memulai sebuah perusahaan produksi berjudul Jennaration X Studios. Dia juga muncul di Superbad
Jenna Haze

Katie Morgan
Setelah memulai karirnya sebagai joki radio, ini berusia 35 tahun juga di antara bintang-bintang dewasa bayaran tertinggi dengan kekayaan bersih sebesar $ 6 juta. Dia ditangkap karena penyelundupan ganja pada tahun 2000 dan pensiun dari bisnis dewasa pada tahun 2008 dan bergabung dengan industri mainstream.
Kattie Morgan

Bree Olson
Dengan lebih dari 280 film dewasa untuk kreditnya, Bree Olson adalah bintang Amerika berusia 29 tahun yang masuk industri ini pada tahun 2006 dan memiliki kekayaan bersih sebesar $ 7 juta. Dia juga telah menjadi bagian dari film termasuk The Human Centipede 3 dan Direktur Cut
Bree Olson

Maria Takagi
bintang Jepang ini memiliki kekayaan bersih sebesar $ 8 juta. Aktris 37 tahun debutnya di industri pada tahun 2002 dan dia juga dikenal untuk bekerja televisinya di Tokyo Zombie. Dia terakhir membintangi Shinda Me O Shita Shonen pada tahun 2015
Maria Takagi

Jesse Jane
Cindy Taylor atau Jesse Jane karena ia dikenal di dunia orang dewasa adalah bintang Amerika dengan laba bersih sebesar $ 9 juta. Dia juga seorang wanita bisnis dan memiliki garis tequila Diosa. Bintang biseksual ini memenangkan penghargaan Tubuh Paling populer tahun 2008
Jasse Jane

Traci Lords
Seorang aktris Amerika, Traci Elizabeth Lords adalah bintang dewasa pada tahun 1980 dan saat ini bekerja di film mainstream. Beberapa film dia termasuk Cry Baby, Keahlian, Intent To Kill, Blade, Eksisi, antara lain. Dia memiliki kekayaan bersih sebesar $ 10 juta.
Traci Lords

Tera Patrick
Ini berusia 39 tahun memiliki kekayaan bersih sebesar $ 15 juta dan merupakan di antara top dibayar bintang dewasa. Dia memulai karirnya di industri ini pada tahun 1993 dan pensiun pada 2008. Dia adalah Penthouse Pet of the Month pada bulan Februari 2000
Tera Patrick

Jenna Jameson
Bayaran tertinggi bintang dewasa dengan kekayaan bersih $ 30 juta. Ini berusia 41 tahun telah bekerja di 187 film dan diarahkan 4 sejak tahun 1993.
Jenna  Jameson

Tuesday, March 15, 2016

SYEKH ABDUL HAMID KUDUS

Dengan rasa rendah hati artikel ini memberi sedikit informasi dan jawapan beberapa persoalan yang masih belum diketahui umum tentang ulama besar yang berasal dari Kudus ini. Sebagai contoh dalam buku berjudul Intelektual Pesantren oleh Dr. Abdurrahman Masud, terbitan LKIS Yogyakarta, cetakan pertama 2004, hlm. 107, tertulis, ``Adalah benar bahwa jumlah penulis di lingkungan pesantren dapat dihitung dengan jari, seperti Nawawi sendiri dan pendahulu-pendahulunya, Arsyad al-Banjari, Abd al-Hamid bin Muhammad Ali Kudus (penulis Latif al-Isyarat).'' Pada nota kaki mengenai ini tertulis pula, ``Sejauh ini tidak terdapat sumber untuk mengungkap secara pasti tanggal daripada biografi Abd al-Hamid bin Muhammad Ali Kudus.'' Sebenarnya ulama besar yang asal-usulnya dari Kudus, Jawa Tengah, kelahiran Mekah yang diriwayatkan ini sekurang-kurangnya ada tiga sumber karangan orang Arab dalam bahasa Arab dan dapat dibandingkan 22 buah karangan beliau sendiri. Sebenarnya Syeikh Nawawi al-Bantani (lahir 1230 H/1814 M), adalah guru dan jauh lebih tua daripada Syeikh Abdul Hamid Kudus. Syeikh Abdul Hamid Kudus lahir di Mekah, dalam Mukhtashar Nasyrun Naur waz Zahar dinyatakan lahir 1277 H/1860 M, dan dalam Siyar wa Tarajim dinyatakan lahir 1280 H/1863 M. Beliau juga wafat di Mekah tahun 1334 H/1915 M. Nama lengkap ialah Syeikh Abdul Hamid bin Muhammad Ali Qudus / Kudus bin Abdul Qadir al-Khathib bin Abdullah bin Mujir Qudus / Kudus.

Syeikh Abdul Hamid Kudus mendapat pendidikan asas pertama sekali dari lingkungan keluarganya yang ramai menjadi ulama. Sejak kecil menghafaz al-Quran dan terlatih dengan banyak matan pelbagai bidang ilmu. Matan-matan yang dihafalnya sejak kecil ialah Matn al-Ajrumiyah, Matn al-Alfiyah, Matn ar-Rahbiyah, semuanya dalam bidang ilmu nahu. Matn as-Sanusiyah tentang ilmu akidah. Matn as-Sullam dan Matn az-Zubad, kedua-duanya meliputi akidah, fikah dan tasawuf. Para ulama besar yang terkenal dan menjadi guru beliau ialah Sayid Ahmad bin Zaini Dahlan, Sayid ``Utsman Syatha dan saudaranya Sayid Abu Bakri Syatha. Dalam bidang khusus mengenai ushul fiqh, hadis, tafsir dan tasawuf Syeikh Abdul Hamid Kudus memperdalamkannya kepada Sayid Husein al-Habsyi. Syeikh Abdul Hamid Kudus pula adalah orang kepercayaan Syeikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki dalam bidang keilmuan setelah Syeikh Ahmad al-Fathani. Hubungan antara Syeikh Abdul Hamid Kudus dengan Syeikh Ahmad al-Fathani sangat rapat. Syeikh Abdul Hamid Kudus selain dilantik sebagai salah seorang pentashih kitab beliau seringkali diutus oleh Syeikh Ahmad al-Fathani ke Mesir dalam urusan cetak mencetak kitab, terutama hubungan dengan Syeikh Mushthafa al-Halaby, pemilik syarikat cetak kitab yang terbesar di Mesir pada zaman itu.

Daripada ulama-ulama tersebut, Syeikh Abdul Hamid Kudus memperoleh ijazah khusus dan umum, dan mereka pula memberikan keizinan kepada beliau mengajar di Masjidil Haram dan di rumahnya. Manakala Syeikh Ahmad al-Fathani merintis jalan mulai belajar di Masjid Jamik Al-Azhar (tahun 1290 H/1872 M) Syeikh Abdul Hamid Kudus mengikuti langkah Rais thala'ah (Ketua tela'ah atau tutor)nya itu belajar di tempat yang sama (1300 H/1882 M). Syeikh Abdul Hamid Kudus merupakan generasi kedua mahasiswa dunia Melayu yang belajar di al-Azhar sesudah Syeikh Ahmad al-Fathani, sejak itu beliau sentiasa pulang pergi antara Mekah dan Mesir dalam urusan tertentu yang ada kaitannya dengan kerja-kerja Syeikh Ahmad al-Fathani.

Sebenarnya Syeikh Abdul Hamid Kudus telah mengarang pelbagai judul dalam banyak disiplin ilmu, semuanya dalam bahasa Arab. Walau bagaimana pun pada judul artikel ini saya sebut bahawa beliau adalah ``pakar ilmu arudh dan qawafi''. Kedua-duanya termasuk dalam bidang ilmu kesusasteraan Arab. Dengan ilmu ini dapat diketahui bagaimana timbangan-timbangan syair dan nazam dalam bahasa Arab. Setakat ini informasi yang ada hanya dua orang ulama yang berasal dari dunia Melayu yang menulis dalam kedua-dua ilmu tersebut. Seorang lagi ialah Syeikh Ahmad al-Fathani `Rais Thala'ah' bagi Syeikh Abdul Hamid Kudus. Karangan Syeikh Abdul Hamid Kudus  adalah sebagai berikut:

1. Irsyadul Muhtadi ila Syarh Kifayatil Mubtadi, diselesaikan sesudah Zuhur, hari Khamis, 3 Muharam 1306 H. Kandungannya membicarakan akidah dan ia merupakan syarah daripada karya ayahnya, Syeikh Muhammad Ali Kudus. Dicetak oleh Mathba'ah al-Maimuniyah, Mesir, Ramadan 1309 H. Di bahagian tepinya dicetak matan karya ayahnya, Syeikh Muhammad Ali Kudus tersebut. Ditashih oleh Muhammad az-Zahari al-Ghamrawi.

2. Al-Anwarus Saniyah `alad Duraril Bahiyah, diselesaikan pertengahan Rabiulakhir 1311 H. Kandungannya membicarakan akidah, fikah dan tasawuf. Merupakan syarah daripada karya gurunya Sayid Abi Bakar Syatha. Cetakan pertama, Mathba'ah al-Miriyah al-Kainah Mekah, 1313 H.

3. Fat-hul Jalilil Kafi bi Mutammimati Matnil Kafi fi `Ilmayil `Arudh wal Qawafi, diselesaikan pada hari Isnin, 19 Rabiulawal 1313 H. Kandungannya membicarakan ilmu arudh dan qawafi atau kesusasteraan Arab. Dicetak oleh Mathba'ah al-Husainiyah al-Mashriyah, milik Muhammad Abdul Lathif Khathib, 1325 H. Kata pujian oleh Sayid Ahmad Bik al-Huseini, Muhammad Musa al-Bujiraimi as-Syafi'ie di al-Azhar, Muhammad al-Halaby as-Syafi'ie di al-Azhar dan Ahmad ad-Dalbasyani al-Hanafi di al-Azhar. Ditashih oleh Muhammad az-Zahari al-Ghamrawi.

4. Al-Futuhatul Qudsiyah fi Syarhit Tawassulatis Sammaniyah, diselesaikan pada Zuhur, akhir Muharam 1322 H. Kandungan pada muqaddimahnya pengarang menyebut bahawa beliau adalah penganut Mazhab Syafie dalam fikah, Mazhab Abu Hasan al-Asy'ari dalam akidah, dan penganut Thariqat Khalwatiyah. Sebab-sebab beliau menulis kitab ini adalah atas permintaan Qadhi Muslimin Negeri Surakarta ibu kota Jawa, beliau ialah Al-'Allamah al-Hamam asy Syeikh Raden Tabshirul Anam, supaya menulis syarah matan Al-Qashidatur Rajziyah yang bernama Jaliyatul Kurbi wa Manilatu `Arabi. Pada awal perbicaraan pengarang menyebut tentang sanad-sanad thariqat, di antaranya beliau juga mempunyai hubungan dengan Syeikh Abdus Shamad bin Abdur Rahman al-Falimbani. Dicetak oleh Mathba'ah al-Hamidiyah al-Mashriyah, 1323 H. Taqriz dinyatakan ramai ulama tetapi yang dapat disebut pada akhir karangan hanya dua orang ulama saja ialah Syeikh Jami' Al-Azhar, bernama Syeikh Abdur Rahman asy-Syarbaini asy-Syafi'ie dan Syeikh Muhammad Thumum al-Maliki Al-Azhari. Kitab ini dimiliki pertama oleh Muhammad Thaiyib bin Sulaiman ahli Pekalongan pada 7 Rejab 1323 H. Sesudah itu dimiliki oleh Tuan Guru Haji Abu Bakar bin Haji Hasan, Qadhi Muar, Johor dan pada hari Isnin, 13 Rabiulakhir 1420 H/26 Julai 1999 M diserahkan kepada saya oleh Haji Muhammad bin Haji Abu Bakar bin Haji Hasan, Qadhi Muar, Johor.

5. Lathaiful Isyarat ila Syarhi Tashilit Thuruqat li Nazhamil Waraqat fil Ushulil Fiqhiyah, diselesaikan pada hari Isnin, 12 Rabiulawal 1326 H. Kandungannya membicarakan ilmu ushul fiqh. Terdapat berbagai-bagai edisi cetakan, di antaranya Mathba'ah Dar at-Thiba'ah al-Mashriyah, 54-60 Baserah Street Singapura (tanpa tahun).

6. Kanzun Najahi was Surur fil Ad'iyatil lati ila Tasyarruhis Shudur, diselesaikan pada hari Jumaat, bulan Safar 1328 H. Kandungannya membicarakan berbagai-bagai amalan wirid, doa, zikir dan lain-lain. Cetakan pertama oleh Mathba'ah At-Taraqqil Majidiyah al-'Utsmaniyah, Mekah, 1330 H. Kata pujian oleh Syeikh Muhammad Sa'id bin Muhammad Ba Bashail, Mekah, Sayid Husein bin Muhammad bin Husein al-Habsyi, Sayid Umar bin Muhammad Syatha, Sayid Muhammad ibnu Sayid Muhammad ibnu al-Faqih Sayid Idris al-Qadiri al-Maghribi al-Hasani, Syeikh Muhammad bin Syamsuddin, Syeikh Yusuf bin Ismail an-Nabhani, dan Syeikh Umar Hamdan.

Karangan Syeikh Abdul Hamid Kudus yang lain ialah:

7. Risalah fi al-Basmalah min Nahiyah al-Balaghah.

8. Manzhumah fi al-Adab wa al-Akhlaq li al-Islamiyah.

9. Thali'us Sa'di ar-Rafi' fi Syarh Ilm al-Badi', kitab ini membicarakan ilmu badi'.

10. Fiqh Rubu' `Ibadat.

11. Nubzah fi at-Tashauwuf.

12. Ad-Durrah ats-Tsaminah fi al-Mawadhi' allati tusannu fiha ash-Shalah `ala Shahib as-Sakinah.

13. Tasythir al-Mudharriyah fi ash-Shalah `ala Khairil Bariyah.

14. Majmu' Bulugh al-Maram fi Maulid an-Nabiyi Shallalahu `alaihi wa Sallam.

15. Raja' Nail al-As'ad wa al-Qabul fi Madah Saiyidatina az-Zahra' al-Batul.

16. Bulughus Sa'di wa al-Amniyah fi Madah Umm al-Mu'minin al-Mabra-ah ash-Shiddiqiyah.

17. al-Jawahir al-Wadhiyah fi al-Adab wa al-Akhlaq al-Mardhiyah.

18. az-Zakhair al-Qudsiyah fi Ziyarah Khairil Bariyah.

19. At-Tuhfah al-Mardhiyah fi Tafsir al-Quran al-'Azhim bi al-'Ajamiyah.

20. Dhiyausy Syamsi ah-Dhahiyah.

21. Maulidun Nabiyi Shallalahu `alaihi wa Sallam.

22. Kanzul `Atha fi Tarjamah al-'Allamah as-Saiyid Bakri Syatha.

Syeikh Abdul Hamid Kudus adalah seorang ulama yang sangat bertuah kerana melahirkan seorang anak yang menjadi ulama besar yang warak, yang meneruskan perjuangannya, iaitu Syeikh Ali bin Syeikh Abdul Hamid Kudus as-Samarani. Beliau dilahirkan tahun 1310 H/1892 M dan wafat pada hari Isnin, 14 Syawal 1363 H/1 Oktober 1944 M.

Syeikh Ali anak Syeikh Abdul Hamid Kudus mendapat pendidikan langsung daripada ayahnya. Selanjutnya juga belajar kepada Syeikh Muhammad Mahfuz Termas, Syeikh Muhammad Mukhtar bin Atharid al-Bughri (Bogor), kedua-duanya adalah ulama yang berasal dari dunia Melayu yang pengetahuannya setaraf dengan ulama-ulama bangsa Arab yang berada di Mekah pada zaman itu. Syeikh Ali Kudus selain mempusakai martabat ulama seperti ayahnya, Syeikh Abdul Hamid Kudus sekali gus beliau juga menghasilkan karangan, di antaranya ialah ar-Raddu `ala ar-Rawafidh. Kandungannya merupakan penolakan pegangan golongan Rafidhiyah, iaitu salah satu firqah golongan Syiah yang dianggap menyeleweng daripada ajaran Islam. Selain itu beliau juga menulis banyak artikel yang dimuat dalam majalah. Dalam tahun 1343 H/1925 M Syeikh Ali Kudus bersama keluarganya pindah dari Mekah ke Jawa Timur mendirikan sebuah madrasah di sana. Selanjutnya pindah pula ke Sulawesi, di sana juga menyebarkan ilmu-ilmu demi memartabat agama Islam yang dianutnya.

Monday, February 1, 2016

MAKNA TAHI LALAT DI WAJAH !!!

SEMUA HARUS BACA!! ADA PADA POSISI NOMOR BERAPA TAHI LALAT ANDA?? INILAH ARTI/MAKNANYA UNTUK KESEHATAN ..!!!
Pertama, periksa wajah Anda untuk setiap tahi lalat, dan kemudian melihat diagram di atas untuk mengidentifikasi nomor (s) yang merupakan pertandingan paling dekat dengan tahi lalat di wajah Anda. Biasanya, tahi lalat hanya memegang berarti untuk Anda jika mereka menonjol dan mereka adalah satu-satunya. Jika wajah Anda jika penuh bintik-bintik, jerawat atau "sedikit" tahi lalat, mereka tidak menghitung. Ketika Anda sudah dipastikan yang posisinya sesuai dengan tahi lalat di wajah Anda, mencari makna terdaftar oleh nomor di bawah ini.
Posisi 1-3
Sebagai seorang anak, Anda agak memberontak dan semangat bebas. Anda memiliki kreativitas bawaan dan bekerja dengan baik ketika Anda diberi kebebasan. Umumnya, atasan Anda seperti Anda pendekatan avante garde untuk hidup. Jika Anda memiliki tahi lalat di sini, Anda akan jauh lebih baik dalam bisnis dan menjadi bos Anda sendiri daripada bekerja untuk orang. Apa yang menjanjikan adalah bahwa Anda memiliki keberuntungan untuk menjadi bos sendiri.

Posisi 4
Anda adalah orang yang impulsif, sering bertindak dengan flamboyan yang memberikan karisma dan kepribadian berkilau, tetapi Anda dapat menjadi sulit ketika ada terlalu banyak pendapat. Anda cenderung agak argumentatif, tetapi tidak pernah sampai ke titik menyimpan dendam. Mol ini cenderung untuk memberikan temperamen meledak-ledak dan jika Anda memutuskan untuk menghapusnya, Anda akan menemukan diri Anda menjadi lebih tenang dan lebih damai dengan dunia.

Posisi 5
A mol di atas alis menunjukkan bahwa ada kekayaan keberuntungan dalam hidup Anda, tetapi Anda akan perlu untuk mendapatkan dan bekerja lebih keras daripada kebanyakan orang. Semua pendapatan yang Anda buat harus hati-hati dijaga ada orang yang iri Anda yang mungkin mencoba untuk bicara manis Anda ke perpisahan dengan kekayaan Anda. Berhati-hatilah terhadap orang-orang yang mencoba untuk menarik minat Anda dalam skema kaya get-cepat. Jika Anda memiliki tahi lalat di sini, disarankan untuk tidak terlalu percaya orang lain. Ikuti naluri Anda dan berhati-hati. Dan tidak pernah membiarkan orang lain untuk mengontrol keuangan Anda.

Posisi 6
A mol sini menunjukkan kecerdasan, kreativitas dan keterampilan sebagai seniman. Bakat artistik Anda dapat membawa Anda kekayaan, ketenaran dan kesuksesan. Hal ini juga menunjukkan kekayaan keberuntungan, tapi ini hanya dapat direalisasikan sepenuhnya jika Anda mengikuti kata hati Anda daripada tongkat untuk cara konvensional untuk mencari nafkah. Sukses akan datang jika Anda berani.

Posisi 7
Moles bawah alis menunjukkan argumen dalam keluarga besar yang menyebabkan Anda kesedihan dan ketidakbahagiaan. Ini akan mempengaruhi pekerjaan Anda dan mata pencaharian. Dianjurkan untuk menyelesaikan setiap perbedaan yang Anda miliki dengan kerabat Anda jika Anda ingin ketenangan pikiran untuk bergerak maju.

Posisi 8
Ini bukan posisi yang sangat baik untuk tahi lalat. Posisi keuangan Anda akan terus berada di bawah tekanan karena kecenderungan untuk menyebar uang. Anda juga memiliki kecenderungan untuk berjudi. Satu-satunya adalah Anda harus tahu kapan harus berhenti. Sementara itu, seseorang dengan tahi lalat di sini memiliki kecenderungan untuk menggoda dengan anggota lawan jenis maupun dengan sesama jenis. Lebih baik menjadi cerdas kecil di mana Anda mengerahkan pesona Anda, atau Anda mungkin mendapatkan masalah.

Posisi 9
Posisi mol ini menunjukkan masalah s3k*u4l dan lainnya. Ini adalah mol disayangkan dan Anda disarankan untuk menyingkirkan itu. Ini membawa litani kesengsaraan dan parade masalah.

Posisi 10
Sebuah tahi lalat di sini hanya di bawah hidung menunjukkan keturunan baik keberuntungan. Anda dikelilingi oleh keluarga setiap saat dan akan memiliki banyak anak dan cucu. Anda memiliki dukungan dari orang-orang yang dekat dengan Anda dan akan baik material dan emosional terpenuhi.

Posisi 11
Tahi lalat di sini menyarankan kecenderungan untuk menyerah pada penyakit. Ini adalah ide yang baik untuk memiliki tahi lalat ini dihapus terutama jika itu adalah besar, mol berwarna gelap. Jika tidak menggunakan banyak yayasan untuk menutupi itu.

Posisi 12
Sebuah tahi lalat di sini meramalkan sukses tetapi juga kehidupan yang sangat seimbang. Anda mungkin tidak hanya kaya, tapi terkenal juga. Tapi meskipun Anda memiliki setiap kesempatan untuk menjalani kehidupan yang tinggi, Anda akan memiliki rumah yang memuaskan dan kehidupan keluarga juga. Wanita dengan tahi lalat di sini sangat beruntung dan cenderung menjadi cantik dan glamourous juga.

Posisi 13
Anak-anak Anda akan menjadi kekhawatiran besar dalam hidup Anda. Hubungan Anda dengan mereka tidak baik. Tidak ada banyak yang dapat Anda lakukan tentang hal ini kecuali untuk belajar beberapa toleransi.

Posisi 14
Sebuah tahi lalat di sini menunjukkan kerentanan terhadap makanan yang dapat menjadi masalah besar dalam hidup Anda. Anda mungkin memiliki alergi terhadap makanan tertentu atau Anda mungkin hanya akan makan terlalu banyak.

Posisi 15
Kamu adalah seseorang selalu bergerak dan terus-menerus merenovasi dan mendesain ulang rumah Anda. Anda ingin diperkenalkan kepada hal-hal baru dan melihat tempat-tempat baru. Anda tidak senang jika Anda tetap di satu tempat untuk waktu lama. Anda menikmati perjalanan dan petualangan, dan memiliki mata yang sangat jeli.

Posisi 16
Anda harus berhati-hati ketika datang ke makan, dan juga ketika datang ke kehidupan s3*s Anda. Ini adalah dua masalah terbesar Anda. Anda cenderung memiliki masalah berat badan yang dapat membuat Anda tertekan. Anda menikmati asmara, kadang-kadang dengan lebih dari satu orang, tetapi karena Anda adalah orang dengan beberapa moralitas, Anda akan merasa bersalah tentang hal itu dan ini akan menyebabkan Anda banyak stres.

Posisi 17
Anda akan menjadi seseorang menonjol sosial yang besar. Anda aktif di kancah sosial dan pembicara yang sangat baik. Ada kecenderungan untuk menjadi sombong tentang kesuksesan Anda, yang bisa kehilangan Anda nama baik Anda. Ini akan mempengaruhi Anda dalam karena Anda menggambar kepercayaan diri Anda dan harga diri dari apa yang orang lain pikirkan tentang Anda.

Posisi 18
Anda adalah orang yang selalu bergerak. Ada banyak perjalanan ke luar negeri dalam hidup Anda, tetapi Anda harus berhati-hati setiap kali Anda menyeberangi perairan besar, seperti tahi lalat Anda lebih suka Anda untuk tinggal di rumah.

Posisi 19
Anda memiliki uang keberuntungan dan banyak teman yang baik, jadi ini adalah mol baik untuk memiliki. Kelemahan Anda adalah bahwa Anda cenderung menyerah pada pesona lawan jenis. Dalam hidup Anda, inilah yang bisa Anda ke dalam air panas, jadi jangan mendinginkan semangat Anda!

Posisi 20
Sebuah tahi lalat di sini bisa sangat beruntung atau sangat beruntung. Jika Anda memiliki tahi lalat di sini, Anda ditakdirkan baik untuk ketenaran ekstrim atau keburukan. Anda memiliki bakat besar untuk kreativitas dan juga sangat cerdas, namun bakat Anda dapat digunakan untuk baik dan buruk. Anda bukan orang bisa dianggap enteng bagi Anda tidak pushover dan tidak memaafkan dan melupakan dengan mudah. Mol ini adalah tanda dari seseorang yang akan tercatat dalam sejarah baik sebagai besar atau sebagai tiran.

Posisi 21
ini adalah mol baik, karena menunjukkan banyak untuk makan dan minum sepanjang hidup Anda. Mol ini juga membawa ketenaran dan pengakuan.

Posisi 22
kehidupan Anda selalu bahagia dan hal-hal berjalan lancar untuk Anda. Anda juga bisa menjadi superstar olahraga jika Anda memiliki gairah untuk itu. Mol pada akhir alis juga menyarankan orang dari otoritas dan kekuasaan, jadi jika Anda adalah CEO dari sebuah perusahaan, Anda akan melakukannya dengan sangat baik.

Posisi 23
Anda memiliki IQ yang tinggi, dan Anda berdua otak cerdas dan jalan cerdas. Anda memiliki naluri kelangsungan hidup yang sangat berkembang dan akan menjalani hidup yang bermakna dan panjang. Anda akan aktif sampai usia yang sangat tua dan akan memiliki teman-teman dan keluarga di sekitar Anda sampai akhir.

Posisi 24
Anda akan mencapai ketenaran dan kekayaan di usia muda Anda dan Anda disarankan untuk menggunakan periode ini untuk menjaga usia tua Anda, sebagai orang-orang dengan tahi lalat di sini cenderung memiliki harderlife karena mereka mendapatkan lebih tua.

Posisi 25
Anda akan menikmati baik kemakmuran dan pengakuan keberuntungan, tapi hati-hati dari ekses. Tinggal tradisional dalam sikap Anda dan Anda akan memiliki hidup yang panjang dan berbuah.

Wednesday, January 20, 2016

HIKAYAT DATU BANUA LIMA

Oleh: Datu Panglima Alai_Admin FB Group Bubuhan Kulaan Urang Alai Borneo
(Cerita ini merupakan versi lain, selain Hikayat Banjar Versi JJ. Ras, dan banyak sekali perbedaan terutama pada garis silsilah dan alur cerita)
Sakitar abad ke-5 M berdiri sebuah kerajaan yang merupakan kerajaan permulaan di Kalimantan Selatan, jauh sebelum berdirinya Kerajaan Nagara Dipa. Kerajaan tersebut bernama Kerajaan Tanjungpuri. Bermula berdirinya Kerajaan Tanjungpuri adalah saat kedatangan bubuhan imigran Malayu asal Kerajaan Sriwijaya di pulau sumatera sekitar Tahun 400-500 Masehi. Oleh karena kebudayaan imigran Malayu sudah lebih maju, lalu mereka mendirikan kampung yang lama kelamaan berubah menjadi sebuah kerajaan kecil. Para imigran Malayu tersebut banyak yang melakukan perkawinan dengan panduduk setempat, yakni suku Dayak (Maanyan, Bukit, Ngaju), sehingga Kerajaan Tanjungpuri tersebut, panduduknya terdiri dari orang Malayu dan Dayak. Perpaduan kadua suku tersebut akhirnya nanti menurunkan suku Banjar (Asal muasal suku Banjar).
Semantara sekitar 3000-1500 SM untuk pertama kalinya Imigran dari Yunnan di China Selatan datang ke tanah Borneo. Mereka inilah padatuan ‘nenek moyang orang Dayak atau istilahnya “Melayu tua”. Berabad-abad lamanya Kerajaan Tanjungpuri berdiri, penduduknya makmur dan sajahtera, hidup damai serta bahagia. Pada Tahun 1309 M berdiri juga sabuah kerajaan orang Maanyan yang bernama “Nan Sarunai”. Kedua kerajaan ini saling berkeluarga dan berteman dekat, tidak pernah ada permusuhan. Walau berbeda keyakinan, –Kerajaan Tanjungpuri kebanyakan pangikut ajaran Buddha sedangkan Kerajaan Nan Sarunai kebanyakan pengikut ajaran Kaharingan– tapi kedua kerajaan tetap saling menghormati. Kedua kerajaan sama-sama berkomitmen menjaga alam lingkungan, tidak mau menambang batu bara yang banyak terdapat di wilayah kerajaan, apalagi menanam sawit karena pada saat itu tidak ada istilah jual beli tanah dan sawit serta hasil tambang batu bara.

Kerajaan Tanjungpuri mempunyai lima orang Panglima. Yang Partama bergelar Panglima Alai, yang merupakan ahli politik dan strategi. Yang Kedua, Panglima Tabalong, orangnya gagah, kuat, pemberani, dan berjiwa ksatria. Yang Katiga, Panglima Balangan, Orangnya sangat tampan, pintar, dan suka menuntut ilmu, sedangkan yang keampat dan kelima si kembar yang bergelar Panglima Hamandit dan Panglima Tapin. Mereka berdua ini orangnya cepat emosian, keras kepala, dan suka berkelahi. Kelimanya bersaudara ini, anak dari Datu Intingan (Saudaranya Datu Dayuhan Kapala suku Dayak Maratus) dan Dayang Baiduri (Putri Imigran Melayu keturunan Sriwijaya).

Pada saat itu, Kerajaan Majapahit sangat berambisi untuk menguasai Nusantara. Hal itu terjadi karena Maha Patih Gajah Mada sudah termakan sumpah hendak ‘menguasai’ nusantara. Tapi oleh para politikus Majapahit kata ‘menguasai’ diperhalus menjadi ‘mempersatukan’ nusantara. Ada mata-mata Majapahit yang berdalih berdagang ke kotaraja kedua kerajaan tadi, didapatlah informasi bahwa kedua kerajaan tersebut sangat makmur. Istananya saja berlapis emas. Mendengar hal itu, Prabu Hayam Wuruk, Raja Majapahit begitu berambisi untuk menguasai kedua kerajaan tersebut, Kerajaan Tanjungpuri dan Kerajaan Nan Sarunai.

Pada Tahun 1356 Kerajaan Majapahit mengirim ekspedisi militer pertama ke wilayah Borneo. Yang mula-mula diserang adalah Kerajaan Nan Sarunai. Sakitar 5.000 pasukan Majapahit datang dengan kapal melewati Sungai Barito yang dipimpin oleh Senopati Arya Manggala. Melihat pasukan yang sangat banyak tersebut, lalu Kerajaan Nan Sarunai mminta bantuan ke Kerajaan Tanjungpuri. Lalu oleh raja Tanjungpuri dikirim lima orang Panglima tadi dengan membawa 1000 pasukan membantu Kerajaan Nan Sarunai. Setelah itu pecahlah perang yang dahsyat antara pasukan Majapahit melawan pasukan Nan Sarunai yang dibantu pasukan Tanjungpuri. Banyak sekali jatuh korban di kedua belah pihak. Pasukan Majapahit yang terkenal hebat dalam bertempur karena sudah berkeliling Nusantara manaklukan berbagai kerajaan, saat itu mendapat perlawanan yang hebat tak terkira. Banyak tentara Majapahit yang mati di tangan lima panglima Tanjungpuri yang sakti-sakti tersebut. Panglima Alai yang ahli strategi mengatur pasukan, Panglima Tabalong yang gagah mengamuk di barisan paling muka, banyak tentara Majapahit yang terlempar ke udara dilemparkan oleh panglima atau banyak juga yang dilemparkan ke tubuh musuh yang berani mendekat. Sedangkan Panglima Balangan menjadi pimpinan barisan pangawal raja, dengan kesaktiannya mampu melindungi raja dari keroyokan pasukan Majapahit. Semantara Panglima Hamandit dan Panglima Tapin beradu (duel) kesaktian dengan para pendekar Majapahit. Banyak sudah Pendikar Persilatan Majapahit yang merupakan orang-orang bayaran, mati di tangan Panglima Hamandit dan Panglima Tapin. Setelah dua hari bertempur akhirnya pasukan Majapahit mampu dipukul mundur, bahkan Senopati Arya Manggala penggal kepalanya terkena Mandau terbang “Pangkalima Angkin”, Panglima Kerajaan Nan Sarunai yang terkenal sakti. Sisa-sisa pasukan Majapahit lari terbirit-birit menuju kapal untuk pulang ke Jawa.

Di Tanjungpuri setelah peperangan malawan Majapahit banyak infrastruktur kerajaan yang hancur, ladang banyak yang rusak begitu juga pohon karet banyak yang roboh. Pelabuhan kerajaan tidak ramai lagi karena banyak padagang yang takut berlabuh setelah mendengar ada perang. Maka tarjadi “krisis moneter” berkepanjangan di Kerajaan Tanjungpuri. Kelima panglima kerajaan mendapat tanah kekuasaan masing-masing di daerah lima aliran sungai yang berhulu di Pegunungan Maratus sebagai hadiah dari Sri Baginda Darmapala. Daerah lima aliran sungai tersebut akhirnya bernama sesuai gelar lima Panglima Tanjungpuri. Panglima Alai mendapat wilayah yang bernama Batang Alai (sekarang menjadi Kabupaten HST), Panglima Tabalong mendapat wilayah yang bernama Batang Tabalong (sekarang menjadi Kabupaten Tabalong), Panglima Balangan mendapat wilayah yang bernama Batang Balangan (sekarang menjadi Kabupaten Balangan), Panglima Hamandit mandapat wilayah Batang Hamandit (sekarang menjadi Kabupaten HSS), sedangkan Panglima Tapin mandapat wilayah Batang Tapin (sekarang menjadi Kabupaten Tapin).

Ada kisah menarik antara dua Panglima kembar tersebut, yaitu Panglima Hamandit dan Panglima Tapin, yang keduanya sama-sama menghendaki anak Raja Tanjungpuri yang bernama Putri Diang Bulan, sampai-sampai yang mereka berdua bertengkar, tapi karena sama-sama sakti, maka tidak ada yang mampu saling mengalahkan. Akhirnya oleh Putri Diang Bulan, mereka disuruh beradu ba igal (berjoget). Ternyata Panglima Tapin lebih hebat berjoget daripada Panglima Hamandit. Oleh karena itu, orang-orang Tapin banyak yang menguasai kesenian bajapin ‘bagandut.’ Tapi Putri Diang Bulan tidak sampai hati memilih di antara keduanya. Akhirnya Putri Diang Bulan kembali menyuruh mereka untuk beradu pantun ‘baturai pantun’ dan ternyata Panglima Hamandit yang lebih hebat, makanya orang-orang daerah Hamandit banyak menguasai bidang sastra. Karena sama-sama mempunyai kelebihan, Putri Diang Bulan menjadi semakin bingung sendiri. Karena kebigungan, akhirnya Putri Diang Bulan memilih kawin dengan Panglima Alai. Oleh sebab itu, orang-orang Hamandit dan Tapin banyak yang tidak suka dengan orang-orang Alai kalau urusan cinta dan perempuan. Panglima Tabalong dan Panglima Balangan yang mengetahui soal cinta sagi empat di antara saudaranya tersebut lebih memilih netral, tidak memihak ke mana-mana. Datu Dayuhan dan Datu Intingan yang malihat hal tersebut akhirnya cepat turun tangan berusaha untuk mempersatukan persaudaraan mereka. Oleh karena itu, setiap tahun diadakan upacara ‘Aruh Ganal’ di daerah pahuluan sana.

Pada Tahun 1387 atau 29 tahun setelah terjadinya peperangan antara Majapahit dan Tanjungpuri, berdiri sebuah Kerajaan Hindu di Borneo yang bernama Nagaradipa. Kepala pemerintahannya bernama Empu Jatmika, seorang palarian matan Kerajaan Kediri. Karena tingkah lakunya yang baik dan santun, dia disukai oleh Raja Tanjungpuri yang bernama Sri Baginda Kartapala (anak Sri Baginda Darmapala). Oleh Sri Baginda Kartapala, Empu Jatmika ditawari agar anaknya Lambung Mangkurat untuk mengawini anaknya yang bernama Putri Junjung Buih. Tapi karena merasa ketuaan, Lambung Mangkurat menyuruh anaknya Raden Putera untuk mengawini Putri Junjung Buih.

Raden Putera adalah anak Lambung Mangkurat dari parkawinan dengan Urang Biaju (Dayak Ngaju). Singkat cerita akhirnya Raden Putra kawin dengan Putri Junjung Buih. Sejak saat itu Sri Baginda Kartapala menyerahkan seluruh kekuasaan dan wilayah Tanjungpuri kepada Kerajaan Nagaradipa. Kerajaan Nagaradipa sendiri mengangkat Raden Putera sebagai raja yang bergelar Pangeran Suryanata. Namun ada sesuatu hal yang bergejolak di dalam pemerintahan Nagaradipa, yaitu saling berebut pengaruh antara Imigran Majapahit yang sengaja disusupkan jadi pajabat di Nagaradipa dengan orang-orang Tanjungpuri yang ikut mangabdi jadi pajabat di Kerajaan Nagaradipa. Apalagi setelah para politikus Majapahit mampu mempengaruhi Patih Lambung Mangkurat yang akhirnya memutuskan malarang adat istiadat Melayu dan Dayak di Kerajaan Nagaradipa. Pakaian adat harus mengikuti gaya pakaian orang Majapahit (kelak pada saat perpindahan kekuasaan dari Nagaradipa ke Nagaradaha kebudayan Melayu dan Dayak kembali mendapat tempat di kerajaan).

Mendengar hal tersabut, lima Panglima Tanjungpuri yang sudah tua-tua menjadi berang. Kelima Panglima ini sangat kecewa sekali sebab mereka sudah bersumpah tidak akan tunduk dengan Majapahit. Tapi oleh karena masih menghormati Putri Junjung Buih sabagai cucu Sri Baginda Darmapala, kalima Panglima tersebut mampu menahan diri. Setelah itu kelima panglima ini tidak pernah muncul lagi baik di dunia politik maupun di dunia parsilatan. Mereka masing-masing mengasingkan diri ke Pegunungan Maratus. Para keluarga Kerajaan Tanjungpuri pun terpecah dua, ada yang mandukung Nagaradipa dan ada juga yang tidak. Yang tidak mendukung akhirnya ikut mengasingkan diri ke Pegunungan Maratus di bawah pimpinan Pangeran ke-10 mengikuti para Datu Banua lima. Tempat berkumpulnya para kaluarga Kerajaan Tanjungpuri di Pegunungan Maratus yang di pimpin Pangeran ke 10 adalah Manggajaya.

Melihat hal tersabut Patih Lambung Mangkurat merasa tarancam lalu atas bantuan Majapahit dia mengirim pasukan di bawah pimpinan Hulu Balang Arya Megatsari dan Tumenggung Tatah Jiwa ka daerah Batang Tabalong, Batang Balangan, Batang Alai, Batang Hamandit dan Batang Tapin supaya tunduk terhadap kekuasaan Nagaradipa. Kelima wilayah tersabut memang bisa ditaklukan, tapi daerah “Manggajaya” tak ada berani menyerang ke sana karena menurut cerita Lima orang Panglima yang bergelar Datu Banua Lima ada di Manggajaya dan di sana juga bakumpul para keturunan keluarga Kerajaan Tanjungpuri dan Kerajaan Nan Sarunai. Itulah sebabnya kenapa orang-orang pahuluan (Banua Lima) terkenal berjiwa pahlawan sebab masih sebagai keturunan para Panglima Kerajaan Tanjungpuri. Kelak di masa penjajahan Belanda, orang Manggajaya ini yang akan turun membantu Pangeran Hidayatullah bertempur di wilayah Banua Lima. Hal tersebut kembali berulang pada saat masa mempertahankan kemerdekaan, orang-orang Banua Lima ini terkenal sebagai bagian dari pasukan ALRI Div. IV di bawah komando Brigjen Hasan Basri (keturunan Panglima Hamandit).

Wednesday, December 30, 2015

NUSANTARA adalah Kota ATLANTIS peninggalan Nabi Sulaiman

“Taabut” dalam Alqur’an berarti “Kode Kerajaan”,kode kerajaan ini disimpan oleh Nabi Daud AS.
dan diwariskan kepada Nabi Sulaiman AS, kode kerajaan tsb saat ini sudah berhasil dibuka dengan ditemukannya fakta baru bahwa “CANDI BOROBUDUR” sebenarnya adalah “TEMPLE OF SOLOMON” yang banyak menyimpan kode rahasia Kerajaan Sulaiman dan Ratu Saba.
Berikut ini adalah fakta2nya : FAKTA ini menyimpulkan bahwa YAHUDI itu adalah JAWA atau JEWS, coba tengok situs resmi Israel misalnya di Kantor Perdana Menteri Israel dan Kantor Kedubes Israel di seluruh dunia terpampang nama Ibukota Israel : JAVA TEL AVIV / JAWA TEL AVIV, dan MAHKOTA RABBI YAHUDI yang menjadi imam Sinagog pake gambar RUMAH JOGLO JAWA.
Dengan demikian apakah Bani Israel merasa menjadi keturunan Jawa ? Yang disebut Jawa adalah seluruh Etnik Nusantara yang dulunya penghuni Benua Atlantis sebelum dikirim banjir besar oleh Allah SWT, setelah banjir besar benua ini pecah menjadi 17.000 pulau yang sekarang disebut Indonesia, hanya beberapa etnik yang masih tersisa, selebihnya menjadi cikal bakal bangsa2 dunia antara lain bangsa India, Cina ( termasuk Jepang ), Eropa, Israel, Arab, dan Indian ( silahkan baca hasil penelitian Prof. Santos selama 30 tahun tentang Benua Atlantis terbitan Gramedia ).
Dalam bahasa Jawi Kuno, arti jawa adalah moral atau akhlaq, maka dalam percakapan sehari-hari apabila dikatakan seseorang dikatakan : “ora jowo” berarti “tidak punya akhlaq atau tidak punya sopan santun”,
sebutan jawa ini sejak dulunya dipakai untuk menyebut keseluruhan wilayah nusantara, penyebutan etnik2 sebagaimana berlaku saat ini adalah hasil taktik politik de vide et impera para penjajah. Sejak zaman Benua Atlantis, Jawa memang menjadi pusat peradaban karena dari bukti2 fosil manusia purba di seluruh dunia sebanyak 6 jenis fosil, 4 diantaranya ditemukan di Jawa yaitu Meganthropus Palaeojavanicus (Sangiran), Pithecanthropus Robustus,Pithecanthropus Erectus (Mojokerto), dan Homosapiens (Solo).
Menurut “mitologi jawa” yang telah menjadi cerita turun temurun, bahwa asal usul bangsa Jawa adalah keturunan BRAHMA DAN DEWI SARASWATI dimana salah satu keturunannya yang sangat terkenal dikalangan Guru Hindustan (India) dan Guru Budha (Cina) adalah Bethara Guru Janabadra yang mengajarkan “ILMU KEJAWEN”. Sejatinya “Ilmu Kejawen” adalah “Ilmu Akhlaq” yang diajarkan Nabi Ibrahim AS yang disebut dalam Alqur’an “Millatu Ibrahim” dan disempurnakan oleh Nabi Muhammad SAW dalam wujud Alqur’an dengan “BAHASA ASLI (ARAB)”, dengan pernyataannya “tidaklah aku diutus, kecuali menyempurnakan akhlaq”.
Dalam buku kisah perjalanan Guru Hindustan di India maupun Guru Budha di Cina, mereka menyatakan sama2 belajar “Ilmu Kejawen” kepada Guru Janabadra dan mengembangkan “Ilmu Kejawen” ini dengan nama sesuai dengan asal mereka masing2, di India mereka namakan “Ajaran Hindu”, di Cina mereka namakan “Ajaran Budha”. Dalam sebuah riset terhadap kitab suci Hindu, Budha dan Alqur’an, ternyata tokoh BRAHMA sebenarnya adalah NABI IBRAHIM, sedang DEWI SARASWATI adalah DEWI SARAH yang menurunkan bangsa2 selain ARAB. 
Bukti lain bahwa Ajaran Budha berasal dari Jawa adalah adanya prasasti yang ditemukan di Candi2 Budha di Thailand maupun Kamboja yang menyatakan bahwa candi2 tsb dibangun dengan mendatangkan arsitek dan tukang2 dari Jawa, karena memang waktu itu orang Jawa dikenal sebagai bangsa tukang yang telah berhasil membangun “CANDI BOROBUDUR” sebagai salah satu keajaiban dunia.
ernyata berdasarkan hasil riset Lembaga Studi Islam dan Kepurbakalaan yang dipimpin oleh KH. Fahmi Basya, dosen Matematika Islam UIN Syarif Hidayatullah, bahwa sebenarnya “CANDI BOROBUDUR” adalah bangunan yang dibangun oleh “TENTARA NABI SULAIMAN” termasuk didalamnya dari kalangan bangsa Jin dan Setan yang disebut dalam Alqur’an sebagai “ARSY RATU SABA”, sejatinya PRINCE OF SABA atau “RATU BALQIS” adalah “RATU BOKO” yang sangat terkenal dikalangan masyarakat Jawa, sementara patung2 di Candi Borobudur yang selama ini dikenal sebagai patung Budha, sejatinya adalah patung model bidadara dalam sorga yang menjadikan Nabi Sulaiman sebagai model dan berambut keriting. Dalam literatur Bani Israel dan Barat, bangsa Yahudi dikenal sebagai bangsa tukang dan berambut keriting, tetapi faktanya justru Suku Jawa yang menjadi bangsa tukang dan berambut keriting ( perhatikan patung Nabi Sulaiman di Candi Borobudur ).
Hasil riset tsb juga menyimpulkan bahwa “SUKU JAWA” disebut juga sebagai “BANI LUKMAN” karena menurut karakternya suku tsb sesuai dengan ajaran2 LUKMANUL HAKIM sebagaimana tertera dalam Alqur’an. Perlu diketahui bahwa satu2nya nabi yang termaktub dalam Alqur’an, yang menggunakan nama depan SU hanya Nabi Sulaiman dan negeri yang beliau wariskan ternyata diperintah oleh keturunannya yang juga bernama depan SU ( Sukarno, Suharto dan Susilo ) dan meninggalkan negeri bernama SLEMAN ATAU YERUSALEM di Jawa Tengah.
Nabi Sulaiman mewarisi kerajaan dari Nabi Daud yang dikatakan didalam Alqur’an dijadikan Khalifah di Bumi ( menjadi Penguasa Dunia dengan Benua Atlantis sebagai Pusat Peradabannya), Nabi Daud juga dikatakan raja yang mampu menaklukkan besi (membuat keris dan gamelan dengan tangan, beliau juga bersuara merdu) dan juga menaklukkan gunung hingga dikenal sebagai Raja Gunung.
Di Nusantara ini yang dikenal sebagai Raja Gunung adalah “SYAILENDRA” , menurut Dr. Daoed Yoesoef nama Syailendra berasal dari kata saila dan indra, saila = raja dan indra = gunung.
Dari fakta ini, bisa saja kita simpulkan bahwa suku2 di Nusantara ini adalah Bani Israel yang tetap beriman kepada Nabi Musa dan mendiami tanah yang dijanjikan (THE PROMISED OF LAND) yaitu Benua Atlantis yang sekarang disebut Indonesia, sedang Bani Israel yang berdiaspora ke seluruh dunia adalah mereka yang dikutuk oleh Allah karena mendustakan Nabi Musa AS.
Adapun Bani Israel yang sekarang menjajah Palestina sebenarnya Yahudi jadi2an, maksudnya Bani Israel dari suku ke 13 yaitu SUKU KAZAR, hasil kimpoi campur Bani Israel yang berdiaspora dengan penduduk lokal dan saat ini posisinya mayoritas.

Tuesday, December 15, 2015

SEKH UMAR ABDUL JABBAR

Dalam sejarah pendidikan Islam di Indonesia, tentu kita akan menemui sosok ulama Saudi Arabia yang telah berjasa menyususn buku-buku muqarrar berbahasa Arab untuk santri-santri pemula. Sosok itu bernama Syaikh ‘Umar Yahya ‘Abdul Jabbar -rahimahullah-.
Sebenarnya saya sempat penasaran dengan sosok ulama satu ini. Siapakah gerangan? Bagaimana tidak, salah satu bukunya menjadi muqarrar di pesantren kami. Bersamaan dengan itu, kami sama sekali tidak mengetahui sedikit pun tentang biografinya kecuali setelah 5 tahun.

Beliau dilahirkan pada 1320 H di Makkah Al-Mukarramah yang juga menjadi tempatnya tumbuh dan belajar. Pendidikannya ditangani oleh para ulama negeri Tanah Suci di zamannya. Di samping itu, beliau juga masuk ke Madrasah ‘Askariyyah (kemiliteran) dan lulus dari fakultas kemiliteran di masa Syarif Al-Husain.
Di antara sekian ulama negeri ini yang beliau jumpai di Makkah adalah Ahmad Al-Khathib, Muhammad Nawawi Banten (mengajarkan kitabnya tafsirnya yang berjudul Murah Labid), Muhammad Mahfuzh Tremes (mengajarkan beberapa kitabnya, seperti Mauhibah Dzil Fadhl, Al-Kaubah As-Sathi‘), Uhaid bin Idris, Muhammad Patani, Muhammad Nur Patani, Mukhtar ‘ATharid Batavia, dan lainnya.
Juga ulama-ulama lain dari penjuru negeri. Di antaranya Muhammad ‘Ali Al-Maliki, Jamal Al-Maliki, ‘Abdussattar Ad-Dahlawi As-Salafi, Muhammad Sulaiman Hasbullah, ‘Abdul Hamid Kudus, Yusuf Al-Khayyath, Muhammad Al-Marzuqi, Khalifah An-Nabhani, Abu Bakar Khauqir Al-Hindi As-Salafi, dan seterusnya…
Di usianya yang masih tergolong muda, beliau berpindah ke Indonesia menjadi seorang penulis dan guru agama setelah sebelumnya sebagai seorang yang tumbuh di ketentaraan meski tidak luput darinya pelajaran-pelajaran diniyyah yang beliau terima dari para ulama di zamannya.
Di Indonesia, beliau termasuk penulis buku-buku muqarrar berbahasa ‘Arab di madrasah untuk jenjang pemula. Sampai detik ini, kita masih dapat menjumpai sejumlah buku-bukunya yang diajarkan di hampir seluruh pesantren dan madrasah diniyyah di Indonesia, termasuk pesantren dan madrasah tradisional (baca: NU). Lihat saja, misalnya, kitab “Khulashah Nurul Yaqin” dalam 2 juz, “Al-Mabadi’ Al-Fiqhiyyah ‘ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi’i” dalam 4 juz, “Taqrib Al-Fiqh Asy-Syafi’i”, “Khulashah Itmam Al-Wafa’ fi Sirah Al-Khulafa'”, dan selainnya. Selain itu, beliau juga mempunyai buku kamus biografi yang menghidangkan biografi-biografi sejumlah ulama abad 14. Kamus biografi itu bertajuk “Siyar wa Tarajim Ba’dh ‘Ulamaina fi Al-Qarn Ar-Rabi’ ‘Asyar Al-Hijrri”. Buku ini bahasannya yang cukup simpel namun memiliki nilai sastra yang mudah difahami bagi pemula sekalipun. Dalam buku ini pun tidak hanya biografi ulama-ulama Timur Tengah saja yang direkam, namun juga sejumlah ulama Timur Jauh (baca: Nusantara), India, Daghistan, dan lainnya.
Menurut telaah terhadap bukunya yang bertajuk “Siyar wa Tarajim”, beliau termasuk ulama yang mendukung madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah yang kerap dijuluki “Sawah” (baca: Salafi Wahhabi). Hal ini dapat ditemukan di banyak tempat dalam bukunya ini.
Pada 16 Muharram 13 91 H, akhirnya beliau menghembuskan nafasnya terakhir di Makkah Al-Mukarramah setelah sekian tahun melawat di negeri fana ini. Beliau pun dimakamkan di Ma’la. Semoga Allah merahmati beliau dan menempatkannya di surganya yang tertinngi, Firdaus.

Friday, November 13, 2015

SYAIR MAYAT DAN GANDA KUSUMA

Syair Mayat [gusti aly]

Alkisah tersebut suatu madah,
tubuh lesu urat pun lemah,
menghabarkan nyawa tatkala pindah,
jangan lupa dengan zikir Allah.


Tiadalah kami banyak berkata,
kabar sudah banyak dipeta,
sekedar mengambil simpun cerita,
istimewa di kitab segala pendeta.

Terlalu banyak kabar ibarat,
pada menyatakan ihwal kiamat,
bacalah kitab kabar akherat,
qur'an dan hadis punya riwayat.

Barang siapa taulah iman,
supaya sampai bernama budiman,
bersungguhlah mengikut firman,
dunia akherat menjadi nyaman.

Tatkala disoal munkar dan nakir,
i'tikad nya syah amal nya mahir,
menjawab tiada lagi berfikir,
lidah pasih menyebut zikir

syair karangan gusti Aly banjar
 
Syair Ganda Kusuma [gusti aly]

kusuma ratu amas sakati,
tuan lali dengan lara pati,
laksana dewi bana wati,
kepada kartakusuma yang sakti.


Setelah sudah begitu sekarang,
enam ekor garuda terbang,
ganda kusuma nyata andalang,
di atas udara terlalu padang.

Emas merah kusuma gunung,
taburi dengan emas di galung,
jikapun kaka mati tagulung,
kapani dengan kain sepotong.

Kain di pinggang emas tempaian,
akan bekal kakanda tunangan,
itulah emas dikerjakan,
masuk ke dalam surga kayangan.