Tuesday, October 26, 2010

SYAIR NEGERI BENCANA

Oleh : Hamdi Akhsan
Syair ini merupakan rangkaian peristiwa bencana alam yang terjadi diseluruh negeri sejak Tsunami Aceh 2004 terakhir bencana banjir bandang  yang melanda Wasior,mungkin ada yang terlewatkan tapi substansinya sama, moga jadi renungan untuk peringatan setahun Pemerintahan Presiden SBY-Budiono. Amien!

I
Kumulai syair dengan istighfar,
memohon ampun pada yang Ghoffar,
memohon pada-Nya kuat dan sabar,
terhadap musibah yang kian menyebar.

Kutulis kisah di zaman ini,
tatkala dunia telah terdzalimi,
tatkala bencana melandai bumi,
akibat agama tak diimani.

Banyaklah nyawa tersia-sia,
akibat nafsu serakah manusia,
tak pandang pangkat dan pandang usia,
Ya Allah, dibalik ini apa rahasia?

II
Tersebut sudah dalam alquran,
musibah adalah peringatan,
supaya manusia sebagai insan,
sadar terhadap keterbatasan.

Kalau peringatan tiada digubris,
musibah datang jadi berlapis,
harta dan nyawa dibabat habis,
Ya Allah...betapa hamba ingin menangis.

Ketika musibah telah melanda,
banyaklah wanita menjadi janda,
jerit dan tangis seiring senada,
tiada lagi tawa dan canda.

III
Berawal dari bencana besar,
Gempa Tsunami datang menyebar,
Hebatnya membuat tubuh gemetar,
melihat gelombang berputar-putar.

Betapa banyak jiwa yang hilang,
harta dan benda tiada terbilang,
ratusan ribu nyawa melayang,
Ampuni kami Wahai Yang Maha Penyayang.

Ribuan anak menjadi yatim,
Hilanglah juga tempat bermukim,
Sungguh Allah telah jadi hakim,
atas laku manusia yang zalim.

IV
Betapa manusia tiada lupakan,
dahsyatnya gelora ombak lautan,
kapal yang berat telah didaratkan,
gedung yang kokoh telah dihancurkan.

Dalam bencana yang sangat dahsyat,
ada manusia ambil manfaat,
biaya rekonstruksi jadi berlipat,
Ya allah...jangan jadikan kami pengkhianat.

Kasihan pula rekyat kecil,
jatah rumah tak dapat diambil,
hidup berpindah pakaian dekil,
Memohon mereka pada Allah yang Adil

V
Pedihnya aceh masih melanda,
terjadi gempa ditanah sunda,
jerit dan tangis ramai melanda,
anak kehilangan ayah dan bunda.

Ribuan rumah roboh dan hancur,
airmatapun habis mengucur,
banyak orang yang bertafakkur,
apakah musibah karena kufur.

Para sahabat orang beriman,
mari bersama kita renungkan,
musibah yang datang berketerusan,
mengapa tiada ambil pelajaran?

VI
Gempa di padang terbilang hebat,
gedungpun hancur dan rusak berat,
terpisah keluarga serta kerabat,
ya Allah...pada-Mu jua kami bertaubat.

Betapa kita harus mengingat,
didalam quran sudah tersurat,
gempa diberi karena maksiat,
mari kembali sebelum terlambat.

Banyaklah pakar ngomong ilmiah,
karena letak negara Indonesia,
atau karena sesar berpindah,
atau karena retakan berubah.

VII
apa di bumi ciptaan Allah,
laut merahpun bisa dibelah,
gunung yang tinggi bisa dipilah,
sebagai hukuman karena  salah.

Wahai Allah yang Maha Rahman,
mengapa musibah berketerusan,
apa karena maksiat tuman,
ataukah kami tiada beriman.

Marilah kawan mari  sahabat,
merenung kita sebelum terlambat,
Mayoritas kita muslim yang sholat,
tapi mengapa berhamburan maksiat.

VIII
Dalam tulisan diatas kertas,
korupsi kita ada diatas,
hukum dibeli dengan uang kertas,
manipulasi dianggap pantas.

Terhadap syahwat diumbar-umbar,
pakaian wanita tak cukup selembar,
tutup yang penting tak cukup lebar,
apatah lagi mau bercadar?

Teringat hamba maksiat syahwat,
kaum nabi luth halalkan liwat,
dibalik negeri sedemikian kuat,
demikian alquran beri nasehat.

IX
gaul sejenis sudah biasa,
padahal itu sangat berdosa,
penyebab hancurnya bangsa,
membuat umat bergelimang dosa.

Banyaklah orang yang diperbodoh,
sebelum nikah dianggap jodoh,
hidup bersama seperti kebo,
sungguh syaitan telah menini bobo.

Bayipun banyak yang tanpa ayah,
dijual kepada orang kaya,
dengan alasan tiada biaya,
sungguh...manusia telah aniaya.

X
akibat sex bebas dianggap remeh,
juga hubungan sejenis  nyeleneh,
bermunculanlah penyakit aneh,
azab Ilahi karena dumeh (dumeh=sombong,jawa)

Itulah penyebab Ilahi murka,
ayat-ayat-Nya banyak dilangkah,
tafsirkan alquran sesuka-suka,
sungguh banyak yang telah durhaka.

Mari menoleh pada sejarah,
betapa banyak umat didera,
merekapun hancur berduka lara,
atau dibakar neraka membara.

XI
Para sahabat orang beriman,
bertaubat kita pada yang Rohman,
supaya didunia hidupnya aman,
diakherat dapat surga bertaman.

Belumlah lagi banjir yang datang,
akibat hutan habis ditebang,
tiada lagi tempat binatang,
ataupun tempat bersawah ladang.

Petani kecil menangis seorang,
habislah padi disawah ladang,
rumah tersapu harus smenumpang,
tuk bangkit lagi harus berhutang.

XII
Berbeda  para pembalak hutan,
didepan berpura sedih kelihatan,
uang mereka masih ratus jutaan,
Hatinya sudah dikuasai syaitan.

Rangkaian musibah datang melanda,
Bertanya orang itu mengapa,
apakah karena Allah yang murka,
atau karena sedang dicoba.

Cirinya bangsa sedang dicoba,
musibah datang segera berubah,
yang khianat kembali jadi amanah,
yang lupa istighfar memohon taubah.

XIII
Tapi kalaulah tiada berubah,
musibah  sesaat membuat iba,
setelah itu kembali berlomba,
buat maksiat kumpulkan harta.

Betapa banyak pengkhianatan,
Anti korupsi dikriminalkan,
hukum yang ada diperdagangkan,
bahkan...musibahpun di proyekkan.

Ingatlah wahai para pemimpin,
Padang Mahsyar tempat yang yakin,
kalaulah tidak santuni yang miskin,
dihantam malaikat sudahlah mungkin.

XIV
Seorang pemimpin akan ditanya,
uang yang ada dikemanakannya,
segala maksiat yang tak dilarangnya,
segala urusan yang dilalaikannya.

Pemimpin beriman yang sederhana,
pikirkan rakyat ia karena,
didalam dadanya takut merana,
menghadap Allah di alam sana.

kerjanya bukan bermegah-megah,
urusan negara dicampur keluarga,
keputusan dibuat berdasar praduga,
Dikelilingi mereka yang sering membangga.

XV
Ingatlah kuasa akan berakhir,
baik dan buruk telah kau ukir,
hukum dan amanah yang dipelintir,
kan dipertanggungjawabkan di yaumil akhir.

Kalaulah memang sudah berhasil,
mengapa banyak yang masih bangkil,
janji disaat rakyat dipanggil,
untuk sejahterakan rakyat kecil.

Ingatlah selalu kepada janji,
karena malaikat mencatat rapi,
rakyat pun selalu kan mengingati,
jadilah pemegang amanah yang terpuji.

XVI
Kepada Allah hamba berdoa,
semoga dihindar dari bencana,
diberi kekuatan para pemimpinnya,
tuk jalannya amanah sesuai perintah-Nya.

Wahai Ilahi yang Maha Kasih,
bergelimang dosa hamba-Mu masih,
iman dan amal sering tersisih,
namun merasa sudahlah bersih.

Hamba memohon dengan tangisan,
berilah kami belas kasihan,
jauhkan musibah yang memedihkan,
ingatkan kami Engkau punya pesan.

PENUTUP
Diakhir syair kumohon maaf,
pada pemimpin bila tersilap,
pada Allah jua kita kan hadap,
berbuah siksa ataupun nikmat.

Inderalaya,20-10-2010
Hamba Allah yang dhaif

Indonesia negeri bencana
Tak terjadi jika bijaksana
Pemimpin adil rakyat sejahtera
Hasil alam dibagi rata

...Hutan ditebang seenakenaknya
Air mengalir begitu cepatnya
Tak ada yang mampu menghalangnya
Tinggal nestapa melanda jiwa

Pemimpin bijak tak banyak bicara
apalagi mengeluh pada jelata
Lebih baik kerja sekuat tenaga
Memakmurkan rakyat yang sengsara

Bencana datang karena lupa
Bencana datang sebagai petanda
Allah pun benci lalu murka
Sebaiknya insaf segala dosa

0 comments: