Sunday, July 31, 2016

Suku Gaib Populer di Indonesia

di negri Indonesia terdapat ratusan sukum bahkan diantara nya ada suku yang tidak terlihat yang dipercaya masyarakat sekitar, karena cerita nya sudah menyebar turun menurun hingga sekarang, diantara nya

1, Orang Bati - Pulau Seram

Pulau Seram menyimpan misteri tentang sebuah kelompok makhluk misterius bernama Bati. Warga di kawasan itu begitu takut dengan Bati lantaran mereka kerap menculik anak-anak untuk disantap. Makhluk ini memiliki tinggi sekitar 1,6 meter dan memiliki sayap sangat lebar berwarna hitam. Sekilas, Bati mirip sekali dengan manusia kelelawar yang terbang di angkasa.
Kisah tentang Suku Bati mendadak jadi isu global di masa lalu lantaran ada orang asing bernama Karl Shunker menulisnya menjadi sebuah artikel. Warga Pulau Seram di masa lalu percaya kalau Suku Bati yang mirip kelelawar ini hidup di gua-gua di puncak gunung. Mereka hanya akan turun untuk mencari mangsa yang berupa hewan atau kalau tidak ada anak-anak pun bisa disambar.

2, Orang Bunian - Sumatra Barat

Orang Bunian adalah salah satu kelompok suku gaib yang konon banyak sekali terdapat di Sumatra Barat. Mereka tinggal di kawasan hutan, bukit, atau kuburan yang sangat sepi. Beberapa cerita mengatakan bahwa orang bunian kerap meninggali rumah kosong. Mereka suka muncul saat senja dengan mengeluarkan tanda-tanda. Biasanya orang setempat akan membaui aroma kentang yang digoreng.
Makhluk ini dikenal suka menyesatkan para penjelajah. Bisanya mereka berwujud manusia secara sempurna. Orang-orang yang ikut masuk ke dunia orang bunian akan susah sekali untuk keluar, terlebih jika sampai makan masakan dari sana. Itulah mengapa kasus-kasus hilangnya orang di hutan selalu dikaitkan dengan adanya orang bunian

3, Orang Limun - Kalimantan Barat

Orang Limun atau Orang Kebenaran adalah sekelompok masyarakat atau suku gaib yang ada di Padang 12, Kalimantan Barat. Lokasi Padang 12 adalah sebuah lahan kosong tak terpakai dengan pohon-pohon pinus di sekelilingnya. Orang setempat yakin jika di sini tinggal Orang Limun yang dikenal sangat suci dan taat beribadah
Versi lain dari cerita ini mengatakan kalau Orang Limun adalah seorang jin Islam yang telah tinggal di sana selama ribuan tahun. Orang Limun suka sekali memberikan kunyit emas kepada para pengguna jalan yang melintas. Biasanya Orang Limun akan berpura-pura jadi nenek tua atau siapa saja dan minta di antar. Lalu saat tiba di Padang 12, dia hilang dan tukang ojek dapat rezeki yang banyak

4, Suku Paloh - Kalimantan Barat

Di kawasan Kalimantan Barat terutama yang dekat dengan Malaysia terdapat sebuah desa bernama Paloh. Namun, bukan desa adat ini yang akan dibahas. Yang kita bahasa adalah suku gaib yang ada di kawasan hutan dekat Paloh. Konon, berdasarkan cerita banyak sekali orang, kawasan ini memiliki banyak manusia gaib yang kerap disebut dengan Suku Paloh.
Aktivitas suku gaib ini dimulai pada malam hari. Orang-orang yang pernah melihat mengatakan bahwa peradaban suku ini sangat maju. Mereka seperti layaknya manusia biasa yang berjualan, bersosialisasi hingga punya keluarga. Pada tahun 70-an ada sebuah pesawat yang melintas di sini dan hilang. Menurut kabar pesawat itu masuk ke dunia Suku Paloh dan tidak akan bisa ditemukan lagi.

Sunday, July 24, 2016

SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU TAJWID

Asal kata Tajwid yaitu dari kata bahasa Arab “jawwada - yujawwidu- tajwiidan”  (جوَّدَ يجوِّد ، تجويدًا ، فهو مُجوِّد ، والمفعول مُجوَّد) berarti membuat sesuatu menjadi bagus. Di dalam beberapa buku tajwid disebutkan bahwa istilah ini muncul ketika seseorang bertanya kepada khalifah ke-empat, ‘Ali bin Abi Thalib tentang firman Allah yang berbunyi :

ورتل القرأن ترتيلا
 
Beliau menjawab bahwa yang dimaksud dengan kata tartil adalah tajwiidul huruuf wa ma’rifatil wuquuf, yang berarti membaca huruf-hurufnya dengan bagus (sesuai dengan makhraj dan shifat) dan tahu tempat-tempat waqaf. Selama ini memang belum ditemukan musnad tentang perkataan beliau mengenai hal di atas, dan kisah ini hanya terdapat dalam kitab tajwid. Akan tetapi para ulama’ bersepakat bahwa yang dimaksud dengan tartil adalah tajwiidul huruuf wa ma’rifatil wuquuf. 
 
Untuk menghindari kesalahpahaman antara tajwid dan qiraat, maka perlu diketahui terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan tajwid. Pendapat sebagian ulama memberikan pengertian tajwid sedikit berbeda, namun pada intinya sama. Secara bahasa, tajwid berarti al-tahsin atau membaguskan. Sedangkan menurut istilah yaitu, mengucapkan setiap huruf sesuai dengan makhrajnya menurut sifat-sifat huruf yang mesti diucapkan, baik berdasarkan sifat asalnya maupun berdasarkan sifat-sifatnya yang baru.
 
Sebagian ulama yang lain medefinisikan tajwid sebagai berikut: “Tajwid ialah mengucapkan huruf(al-Quran) dengan tertib menurut yang semestinya, sesuai dengan makhraj serta bunyi asalnya, serta melembutkan bacaannya dengan sempurna mungkin tanpa berlebihan ataupun dibuat-buat”.
 
Kapan Ilmu Tajwid Mulai Ada ?
 
Jika ditanyakan kapan asal mula ilmu Tajwid, maka pada dasarnya ilmu ini telah ada sejak al-Quran diturunkan kepada Rasulullah SAW. Ini karena Rasulullah SAW sendiri diperintahkan untuk membaca al-Quran dengan tajwid dan tartil seperti yang disebut dalam 
 
وَرَتِّلِ الْقُرْآَنَ تَرْتِيلًا 
 
“Bacalah al-Quran itu dengan tartil (perlahan-lahan)”. (QS. Al-Muzammil 73 : 4) 
 
Kemudian Rasulullah SAW mengajar ayat-ayat tersebut kepada para sahabat dengan bacaan yang tartil. Para sahabat menguasai semua itu seperti yang telah di ajarkan malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Diantaranya seperti Ibnu Mas’ud, Zaid bin Tsabit dan lain sebagainya.
.
Semua ini menunjukkan bahwa pembacaan al-Quran bukanlah suatu ilmu hasil dari ijtihad (fatwa) para ulama’ yang di olah berdasarkan dalil-dalil dari al-Quran dan Sunnah, tetapi pembacaan al-Quran adalah suatu yang taufiqi (diambil terus) melalui riwayat dari sumbernya yang asal yaitu sebutan dan bacaan Rasulullah SAW.
 
Akan tetapi bagaimanapun, yang dianggap sebagai penulisan ilmu tajwid yang paling awal adalah ketika adanya kesadana akan perlunya mushaf Utsmaniah yang ditulis oleh Sayyidina Utsman diberikan titik-titik pada huruf-hurufnya, kemudian baris-baris bagi setiap huruf dan pelafalannya. Gerakan ini diketuai oleh Abu Aswad Ad-Duali dan Al-Khalil bin Ahmad Al-Farahidi, dimana ketika itu Khalifah umat Islam memiliki tugas  besar untuk hal ini disaat umat Islam mulai ada yang melakukan kekeliruan didalam bacaan.
 
Itu karena ketika masa Sayyidina Ustman, belum diberi titik-titik maupun harakat, sebab bertujuan memberi keleluasaan kepada para sahabat dan tabi’in pada masa itu untuk membacanya sebagaimana yang mereka telah ambil dari Rasulullah SAW, berdasarkan dengan dialek bangsa Arab yang beraneka ragam.
 
Tetapi setelah berkembang luasnya agama Islam ke seluruh tanah Arab serta takluknya Roma dan Persia ke tangan umat Islam pada tahun pertama dan kedua Hijrah, bahasa Arab mulai bercampur dengan bahasa penduduk-penduduk yang ditaklukkan umat Islam. Ini telah menyebabkan terjadinya beberapa kekeliruan didalam penggunaan bahasa Arab dan demikian juga dengan pembacaan al-Quran. Maka, al-Quran Mushaf Utsmaniah diberi tambahan titik-titik dan harakat pada huruf-hurufnya untuk menghidari kekeliruan-kekeliruan tersebut.
 
Permulaaan Pembukuan Ilmu Tajwid
 
Orang yang pertama kali menghimpun ilmu ini dalam bentuk kitab adalah Al-Imam al-‘Adhim Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Salam pada abad ke-3 Hijriyah didalam kitabnya “Kitabul Qiraa-at/  كتاب القراءات”. Sebagian ada yang mengatakan bahwa orang yang pertama mengarang dan menghimpun ilmu-ilmu qira-at adalah Hafsh bin Umar Ad-Duriy.
 
Adapun pada abad ke-4 Hijriyah, masyhur seorang imam bernama Al-Hafidz Abu Bakar bin Mujahid Al-Baghdadiy, ia merupakan orang yang pertama kali mengarang kitab mengenai bacaan 7 qira’at yang masyhur (Kitab al-Sab’ah). Ia wafat pada tahun 324 H. 
 
Memasuki abad ke-5 Hijriyah, masyhur nama Al-Hafidz Al-Imam Abu ‘Amr Ustman bin Sa’id Ad-Dani, pengarang kitab Al-Taysir (التيسير) yang berisi tentang qira-at Sab’ah dan menjadi sandaran pada ahli Qurra’. Ia juga memiliki banyak karangan dalam bidang seni qiraat dan lainnya. Dimasa ini juga masyhur, seorang ulama bernama Al-Imam Makki bin Abi Thalib Al-Qaisi Al-Qairawani, ia mengarang bermacam-macam kitab tentang qira’at dan ilmu-ilmu Al-Qur’an.
 
Pada abad ke-6 Hijriyah, tampil seorang ulama yang menjadi rujukan tokoh-tokoh ulama yang sezaman dengannya maupun datang setelahnya, dengan karangannya bernama “Hirzul Amani wa Wajhut Tahani” atau terkenal dengan “Matan Syathibiyah”, berisi 1173 bait tentang qira-at sab’ah. Ia adalah Abul Qasim bin Fairah bin Khalaf bin Ahmad Ar-Ru’aini Al-Syathibi al-Andalusi, wafat pada tahun 590 H. 
 
Setelah itu, banyak ulama yang menekuni bidang ini disetiap masa, menegakkan panji-panji al-Qur’an baik dengan membaca dan mengaplikasikannya, hingga akhirnya muncul tokoh penting dalam bidang ilmu tajwid dan qira-at yaitu Imamul Muhaqqiqin wa Syaikhul Muqri-iin Muhammad Ibnu Al-Jazari Al-Syafi’I dengan karangannya Al-Nasyr fil Qiraa-atil ‘Asyr, Thayyibatun Nasyr dan Ad-Duratul Mudhiyyah yang mempolopori bahwa ilmu qira-at ada 10, yaitu sebagai pelengkap apa yang telah dinyatakan oleh Imam al-Syathibi didalam kitab Hirzul Amani.
 
Imam Al-Jazari juga telah mengarang karangan yang berasingan bagi ilmu Tajwid dalam kitabnya “At-Tamhid” dan puisi beliau yang lebih terkenal dengan nama “Matan Al-Jazariah”. Imam Al-Jazari telah mewariskan karangan-karangannya yang begitu banyak berserta bacaannya sekali yang kemudiannya telah menjadi ikutan dan panduan bagi karangan-karangan ilmu Tajwid dan Qiraat serta bacaan al-Quran hingga ke hari ini.