Wednesday, December 30, 2015

NUSANTARA adalah Kota ATLANTIS peninggalan Nabi Sulaiman

“Taabut” dalam Alqur’an berarti “Kode Kerajaan”,kode kerajaan ini disimpan oleh Nabi Daud AS.
dan diwariskan kepada Nabi Sulaiman AS, kode kerajaan tsb saat ini sudah berhasil dibuka dengan ditemukannya fakta baru bahwa “CANDI BOROBUDUR” sebenarnya adalah “TEMPLE OF SOLOMON” yang banyak menyimpan kode rahasia Kerajaan Sulaiman dan Ratu Saba.
Berikut ini adalah fakta2nya : FAKTA ini menyimpulkan bahwa YAHUDI itu adalah JAWA atau JEWS, coba tengok situs resmi Israel misalnya di Kantor Perdana Menteri Israel dan Kantor Kedubes Israel di seluruh dunia terpampang nama Ibukota Israel : JAVA TEL AVIV / JAWA TEL AVIV, dan MAHKOTA RABBI YAHUDI yang menjadi imam Sinagog pake gambar RUMAH JOGLO JAWA.
Dengan demikian apakah Bani Israel merasa menjadi keturunan Jawa ? Yang disebut Jawa adalah seluruh Etnik Nusantara yang dulunya penghuni Benua Atlantis sebelum dikirim banjir besar oleh Allah SWT, setelah banjir besar benua ini pecah menjadi 17.000 pulau yang sekarang disebut Indonesia, hanya beberapa etnik yang masih tersisa, selebihnya menjadi cikal bakal bangsa2 dunia antara lain bangsa India, Cina ( termasuk Jepang ), Eropa, Israel, Arab, dan Indian ( silahkan baca hasil penelitian Prof. Santos selama 30 tahun tentang Benua Atlantis terbitan Gramedia ).
Dalam bahasa Jawi Kuno, arti jawa adalah moral atau akhlaq, maka dalam percakapan sehari-hari apabila dikatakan seseorang dikatakan : “ora jowo” berarti “tidak punya akhlaq atau tidak punya sopan santun”,
sebutan jawa ini sejak dulunya dipakai untuk menyebut keseluruhan wilayah nusantara, penyebutan etnik2 sebagaimana berlaku saat ini adalah hasil taktik politik de vide et impera para penjajah. Sejak zaman Benua Atlantis, Jawa memang menjadi pusat peradaban karena dari bukti2 fosil manusia purba di seluruh dunia sebanyak 6 jenis fosil, 4 diantaranya ditemukan di Jawa yaitu Meganthropus Palaeojavanicus (Sangiran), Pithecanthropus Robustus,Pithecanthropus Erectus (Mojokerto), dan Homosapiens (Solo).
Menurut “mitologi jawa” yang telah menjadi cerita turun temurun, bahwa asal usul bangsa Jawa adalah keturunan BRAHMA DAN DEWI SARASWATI dimana salah satu keturunannya yang sangat terkenal dikalangan Guru Hindustan (India) dan Guru Budha (Cina) adalah Bethara Guru Janabadra yang mengajarkan “ILMU KEJAWEN”. Sejatinya “Ilmu Kejawen” adalah “Ilmu Akhlaq” yang diajarkan Nabi Ibrahim AS yang disebut dalam Alqur’an “Millatu Ibrahim” dan disempurnakan oleh Nabi Muhammad SAW dalam wujud Alqur’an dengan “BAHASA ASLI (ARAB)”, dengan pernyataannya “tidaklah aku diutus, kecuali menyempurnakan akhlaq”.
Dalam buku kisah perjalanan Guru Hindustan di India maupun Guru Budha di Cina, mereka menyatakan sama2 belajar “Ilmu Kejawen” kepada Guru Janabadra dan mengembangkan “Ilmu Kejawen” ini dengan nama sesuai dengan asal mereka masing2, di India mereka namakan “Ajaran Hindu”, di Cina mereka namakan “Ajaran Budha”. Dalam sebuah riset terhadap kitab suci Hindu, Budha dan Alqur’an, ternyata tokoh BRAHMA sebenarnya adalah NABI IBRAHIM, sedang DEWI SARASWATI adalah DEWI SARAH yang menurunkan bangsa2 selain ARAB. 
Bukti lain bahwa Ajaran Budha berasal dari Jawa adalah adanya prasasti yang ditemukan di Candi2 Budha di Thailand maupun Kamboja yang menyatakan bahwa candi2 tsb dibangun dengan mendatangkan arsitek dan tukang2 dari Jawa, karena memang waktu itu orang Jawa dikenal sebagai bangsa tukang yang telah berhasil membangun “CANDI BOROBUDUR” sebagai salah satu keajaiban dunia.
ernyata berdasarkan hasil riset Lembaga Studi Islam dan Kepurbakalaan yang dipimpin oleh KH. Fahmi Basya, dosen Matematika Islam UIN Syarif Hidayatullah, bahwa sebenarnya “CANDI BOROBUDUR” adalah bangunan yang dibangun oleh “TENTARA NABI SULAIMAN” termasuk didalamnya dari kalangan bangsa Jin dan Setan yang disebut dalam Alqur’an sebagai “ARSY RATU SABA”, sejatinya PRINCE OF SABA atau “RATU BALQIS” adalah “RATU BOKO” yang sangat terkenal dikalangan masyarakat Jawa, sementara patung2 di Candi Borobudur yang selama ini dikenal sebagai patung Budha, sejatinya adalah patung model bidadara dalam sorga yang menjadikan Nabi Sulaiman sebagai model dan berambut keriting. Dalam literatur Bani Israel dan Barat, bangsa Yahudi dikenal sebagai bangsa tukang dan berambut keriting, tetapi faktanya justru Suku Jawa yang menjadi bangsa tukang dan berambut keriting ( perhatikan patung Nabi Sulaiman di Candi Borobudur ).
Hasil riset tsb juga menyimpulkan bahwa “SUKU JAWA” disebut juga sebagai “BANI LUKMAN” karena menurut karakternya suku tsb sesuai dengan ajaran2 LUKMANUL HAKIM sebagaimana tertera dalam Alqur’an. Perlu diketahui bahwa satu2nya nabi yang termaktub dalam Alqur’an, yang menggunakan nama depan SU hanya Nabi Sulaiman dan negeri yang beliau wariskan ternyata diperintah oleh keturunannya yang juga bernama depan SU ( Sukarno, Suharto dan Susilo ) dan meninggalkan negeri bernama SLEMAN ATAU YERUSALEM di Jawa Tengah.
Nabi Sulaiman mewarisi kerajaan dari Nabi Daud yang dikatakan didalam Alqur’an dijadikan Khalifah di Bumi ( menjadi Penguasa Dunia dengan Benua Atlantis sebagai Pusat Peradabannya), Nabi Daud juga dikatakan raja yang mampu menaklukkan besi (membuat keris dan gamelan dengan tangan, beliau juga bersuara merdu) dan juga menaklukkan gunung hingga dikenal sebagai Raja Gunung.
Di Nusantara ini yang dikenal sebagai Raja Gunung adalah “SYAILENDRA” , menurut Dr. Daoed Yoesoef nama Syailendra berasal dari kata saila dan indra, saila = raja dan indra = gunung.
Dari fakta ini, bisa saja kita simpulkan bahwa suku2 di Nusantara ini adalah Bani Israel yang tetap beriman kepada Nabi Musa dan mendiami tanah yang dijanjikan (THE PROMISED OF LAND) yaitu Benua Atlantis yang sekarang disebut Indonesia, sedang Bani Israel yang berdiaspora ke seluruh dunia adalah mereka yang dikutuk oleh Allah karena mendustakan Nabi Musa AS.
Adapun Bani Israel yang sekarang menjajah Palestina sebenarnya Yahudi jadi2an, maksudnya Bani Israel dari suku ke 13 yaitu SUKU KAZAR, hasil kimpoi campur Bani Israel yang berdiaspora dengan penduduk lokal dan saat ini posisinya mayoritas.

Tuesday, December 15, 2015

SEKH UMAR ABDUL JABBAR

Dalam sejarah pendidikan Islam di Indonesia, tentu kita akan menemui sosok ulama Saudi Arabia yang telah berjasa menyususn buku-buku muqarrar berbahasa Arab untuk santri-santri pemula. Sosok itu bernama Syaikh ‘Umar Yahya ‘Abdul Jabbar -rahimahullah-.
Sebenarnya saya sempat penasaran dengan sosok ulama satu ini. Siapakah gerangan? Bagaimana tidak, salah satu bukunya menjadi muqarrar di pesantren kami. Bersamaan dengan itu, kami sama sekali tidak mengetahui sedikit pun tentang biografinya kecuali setelah 5 tahun.

Beliau dilahirkan pada 1320 H di Makkah Al-Mukarramah yang juga menjadi tempatnya tumbuh dan belajar. Pendidikannya ditangani oleh para ulama negeri Tanah Suci di zamannya. Di samping itu, beliau juga masuk ke Madrasah ‘Askariyyah (kemiliteran) dan lulus dari fakultas kemiliteran di masa Syarif Al-Husain.
Di antara sekian ulama negeri ini yang beliau jumpai di Makkah adalah Ahmad Al-Khathib, Muhammad Nawawi Banten (mengajarkan kitabnya tafsirnya yang berjudul Murah Labid), Muhammad Mahfuzh Tremes (mengajarkan beberapa kitabnya, seperti Mauhibah Dzil Fadhl, Al-Kaubah As-Sathi‘), Uhaid bin Idris, Muhammad Patani, Muhammad Nur Patani, Mukhtar ‘ATharid Batavia, dan lainnya.
Juga ulama-ulama lain dari penjuru negeri. Di antaranya Muhammad ‘Ali Al-Maliki, Jamal Al-Maliki, ‘Abdussattar Ad-Dahlawi As-Salafi, Muhammad Sulaiman Hasbullah, ‘Abdul Hamid Kudus, Yusuf Al-Khayyath, Muhammad Al-Marzuqi, Khalifah An-Nabhani, Abu Bakar Khauqir Al-Hindi As-Salafi, dan seterusnya…
Di usianya yang masih tergolong muda, beliau berpindah ke Indonesia menjadi seorang penulis dan guru agama setelah sebelumnya sebagai seorang yang tumbuh di ketentaraan meski tidak luput darinya pelajaran-pelajaran diniyyah yang beliau terima dari para ulama di zamannya.
Di Indonesia, beliau termasuk penulis buku-buku muqarrar berbahasa ‘Arab di madrasah untuk jenjang pemula. Sampai detik ini, kita masih dapat menjumpai sejumlah buku-bukunya yang diajarkan di hampir seluruh pesantren dan madrasah diniyyah di Indonesia, termasuk pesantren dan madrasah tradisional (baca: NU). Lihat saja, misalnya, kitab “Khulashah Nurul Yaqin” dalam 2 juz, “Al-Mabadi’ Al-Fiqhiyyah ‘ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi’i” dalam 4 juz, “Taqrib Al-Fiqh Asy-Syafi’i”, “Khulashah Itmam Al-Wafa’ fi Sirah Al-Khulafa'”, dan selainnya. Selain itu, beliau juga mempunyai buku kamus biografi yang menghidangkan biografi-biografi sejumlah ulama abad 14. Kamus biografi itu bertajuk “Siyar wa Tarajim Ba’dh ‘Ulamaina fi Al-Qarn Ar-Rabi’ ‘Asyar Al-Hijrri”. Buku ini bahasannya yang cukup simpel namun memiliki nilai sastra yang mudah difahami bagi pemula sekalipun. Dalam buku ini pun tidak hanya biografi ulama-ulama Timur Tengah saja yang direkam, namun juga sejumlah ulama Timur Jauh (baca: Nusantara), India, Daghistan, dan lainnya.
Menurut telaah terhadap bukunya yang bertajuk “Siyar wa Tarajim”, beliau termasuk ulama yang mendukung madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah yang kerap dijuluki “Sawah” (baca: Salafi Wahhabi). Hal ini dapat ditemukan di banyak tempat dalam bukunya ini.
Pada 16 Muharram 13 91 H, akhirnya beliau menghembuskan nafasnya terakhir di Makkah Al-Mukarramah setelah sekian tahun melawat di negeri fana ini. Beliau pun dimakamkan di Ma’la. Semoga Allah merahmati beliau dan menempatkannya di surganya yang tertinngi, Firdaus.